Geliat kehidupan Malam Jogja
Roy Merasa di Salon Lebih Aman dan Nyaman
Umumnya salon-salon seperti ini sudah dikenali pria-pria hidung belang atau yang iseng ingin wisata seks.
Penulis: mrf | Editor: Hendy Kurniawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, M Resya Firmansyah
TRIBUNJOGJA.COM , YOGYA - Selain di kawasan yang jadi lokasi prostitusi terselubung, sejumlah salon dan spa juga dikenal menyediakan pekerja yang bisa jadi pemuas syahwat kaum pria. Lokasinya tersebar di sejumlah kawasan jalan.
Para pekerja dan kapster di salon-salon yang jadi lokasi prostitusi umumnya tidak punya keterampilan jadi perias atau pemotong rambut. Umumnya salon-salon seperti ini sudah dikenali pria-pria hidung belang atau yang iseng ingin wisata seks.
Dari segi tarif, biasanya tamu atau konsumen harus punya kocek lebih tebal ketimbang segmen di Sarkem. Roy, bukan nama sebenarnya, yang baru "servis" di sebuah salon di Jombor, punya pertimbangan praktis mengapa ia pilih ngeseks di salon.
"Tidak perlu malam hari kalau pingin jajan. Jadi istri di rumah enggak curiga," kata Roy enteng. Setelah "servis", Roy keluar dari salon dan terlihat jajan di sebuah warung burjo dekat lokasi prostitusi terselubung itu.
Jam operasi salon prostitusi ini memang hampir sama seperti jam kerja kantor, atau jam-jam keramaian. Buka praktik antara pukul 10.00 hingga pukul 22.00. Ini pula yang membuat Roy dan banyak konsumen salon plus merasa nyaman dan aman.
Tapi menurut Roy, tak semua salon dan spa melayani jasa seks. Buat dia dan banyak lagi yang gemar berpetualang, daftar salon plus sudah dia hapal. Jenis layanan bervariasi dari seks kecil hingga hajat besar dengan durasi pendek.
"Tentu tidak semua. Biasanya kita langsung tahu dari mulut ke mulut bahwa di salon atau spa mana saja yang ada layanan plus-plusnya. Kalau sudah masuk ke dalam, suasananya juga sangat berbeda," jelas Roy. (Tribunjogja.com)