Ini Dia Pasar Surganya Pecinta Batu Akik

Sejak diresmikan sudah ada sekitar 12 pedagang yang mengisi pasar dari awal, salah satunya Muhammad Galih Permana (35).

Editor: Hendy Kurniawan

TRIBUNJOGJA.COM, BOGOR - Pasar Devris yang terletak di Jalan Veteran Kota Bogor, Jawa Barat, berubah fungsi menjadi "surga" pedagang batu akik, puluhan pedagang menjajakan beraneka ragam jenis batu alam bernilai tinggi tersebut.

Direktur Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya, Ali Yusuf, mengatakan ada 40 pedagang dan pengrajin batu akik yang mendaftarkan diri untuk dapat menggunakan fasilitas di Pasar Devris.

"Kita mengakomodir pedagang bisa berjualan selama tiga bulan gratis, sambil melihat minat dan animo masyarakat yang datang," kata Ali, di Bogor, Minggu (11/1/2015).

Sejak diresmikan sudah ada sekitar 12 pedagang yang mengisi pasar dari awal, salah satunya Muhammad Galih Permana (35). Sekitar 100 cincin batu koleksinya ia pamerkan kepada pengunjung yang datang.

Harga dan model serta jenis cincin batu akik yang dijualnya pun beragama, mulai dari harga jual terendah Rp1 juta hingga Rp7 juta untuk batu kualitas tinggi.

"Batu Bacan Dogo ini harganya Rp2 juta, kalau batu rubi ini Rp1.250.000," kata Galih kepada pengunjungnya.

Cincin batu yang dijual oleh Galih berasal dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri, seperti batu Rubi berwarna pink yang berasal dari Afrika, juga ada batu yang berasal dari Srilanka.

Hampir semua cincin batu yang dijualnya merupakan koleksi pribadi yang sudah dikumpulkannya sejak masih duduk di bangku SMP.

"Hobi sejak SMP, waktu itu sudah ada 300 batu akik yang saya koleksi," katanya.

Sebelum batu akik "booming" seperti saat ini, Galih hanya mengkoleksi dan menjual secara khusus dengan cara dari teman ke teman bila mendapatkan tawaran harga yang menarik.

Tetapi setelah batu akik menjadi fenomea, Galih mencoba peruntungan untuk berbisnis menjadi penjual batu akik dengan kualitas terjamin serta bersertifikat.

"Saya mengurus sertifikatnya di Bens International Gemological Center khusus untuk batu mulia. Sertifikat ini untuk menjamin kualitas batu orginal," katanya.

Menurut Galih, hobi mengkoleksi batu akik sejak SMP telah membuahkan hasil, kini ia bisa menjual perhiasan batu akik di toko yang permanen, serta memiliki karyawan untuk membuat cincin batu akik.

Untuk mendapatkan pasokan batu, ia juga sudah memiliki jaringan dari berbagai daerah hingga luar negeri, seperti batu dari Afganistan, dan Afrika.

"Kalau stok habis tinggal hubungi jaringan kita bisa datangkan batu-batu yang dipesan," katanya.

Halaman 1/2
Tags
Akik
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved