26 Desa di DIY Rawan Pangan, Kulonprogo Terbanyak
Terbanyak kedua di Gunungkidul tujuh desa, Bantul lima desa dan Sleman dua desa.
Penulis: esa | Editor: Hendy Kurniawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ekasanti Anugraheni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Memasuki tahun 2015, sebanyak 26 desa di DIY masih rawan pangan. Penyebab utamanya ialah kemiskinan yang menekan daya beli warga terhadap pangan pokok.
Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) DIY Arofa Noor Indriani menjelaskan, desa rawan pangan paling banyak di Kulonprogo. Sebanyak 12 dari 88 desa/kelurahan di sana tergolong rawan pangan. Terbanyak kedua di Gunungkidul tujuh desa, Bantul lima desa dan Sleman dua desa.
"Penyebab yang paling dominan memang karena kemiskinan. Faktor lainnya ialah jumlah ketersediaan pangan dan akses pangan," kata Arofa usai rapat koordinasi dengan Komisi B DPRD DIY, Senin (5/1/2015).
Kendati demikian, jumlah desa rawan pangan sudah berkurang drastis dibanding awal 2014. Saat itu, ada 62 desa rawan pangan. Artinya, ada pengurangan hingga 36 desa dalam setahun. Padahal, BKPP hanya menargetkan pengurangan rata-rata sembilan desa pertahun.
Ada beberapa langkah yang ditempuh BKPP. Satu diantaranya pengembangan 53 Lembaga Akses Pangan Masyarakat (LAPM) sejak 2011. Lembaga itu semacam koperasi yang menjual pangan murah karena memangkas biaya transportasi komoditas.
"Jadi harganya sama dengan di produsen, lebih murah," ungkap Arofa.
Selain itu, LAPM juga dibangun di dekat desa-desa rawan pangan tadi. "Untuk mendekatkan akses pangan. Mereka (yang tinggal di pelosok) bisa lebih dekat beli pangan," ucap mantan Kabid Konsumsi dan Kewaspadaan Pangan BKPP DIY itu.
Lebih jauh Arofa menjelaskan, pertanggal 5 Januari 2015, pihaknya memiliki cadangan pangan 146 ton. Pasokan itu mampu mencukupi kebutuhan DIY hingga 4-5 bulan ke depan.
"Asalkan tidak ada bencana. Semoga saja tidak. Lagipula, Januari ini kita kan panen raya lagi," terang wanita berjilbab itu. (*)