Liputan Khusus
Gua Seluman, Peninggalan Sri Sultan HB II Kini Terisi Genangan Limbah
Pesanggrahan tersebut difungsikan untuk tempat pemandian Ratu, Puteri Raja, serta Selir.
Penulis: had | Editor: Hendy Kurniawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, M Nur Huda
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pada masa kekuasaan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) II, yang terbilang masih awal pendirian Kraton Kasultanan Yogyakarta, banyak didirikan pesanggrahan atau taman. Pesanggrahan tersebut difungsikan untuk tempat pemandian Ratu, Puteri Raja, serta Selir.
Disebutkan dalam Serat Rerenggan Kraton, pesanggrahan yang dibangun HB II antara lain pesanggrahan Rejawinangun, Rejakusuma, Wonocatur, Purwareja, Cendhanasari, Tanjungtirto, Sonosewu, Sanapakis, Tlogo Ji, Kanigoro, Madya Ketawang, Kuwarasan Demak Ijo, Samas, Pelemsewu, Gua Seluman, dan Pengawatrejo.
Dari data yang dimiliki Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta, pesanggrahan HB II sebagian besar berada 6 kilometer di sebelah timur Kota atau saat ini menjadi wilayah administratif Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul.
Namun dari banyaknya situs bersejarah tersebut, kondisinya saat ini memprihatinkan. Salah satunya adalah Gua Seluman yang ada di Dukuh Wonocatur, Kelurahan Banguntapan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul.
Seiring perkembangan zaman, bangunan pesanggrahan telah dihancurkan dan hampir seluruhnya lenyap. Saat ini hanya menyisakan bangunan utama. Meskipun komplek taman sebagai salah satu simbol kekuasaan Kraton, kini berubah fungsi menjadi selokan atau saluran limbah rumah tangga dan limbah industri pengolahan tahu.
Pada Rabu (18/12/2014) dan Kamis (19/12/2014) lalu, Tribun Jogja mendatangi situs ini dan menelusuri jejak-jejak keindahan pesanggrahan. Agak sulit ketika ingin masuk ke dalam komplek. Selain letaknya ada pada tanah yang agak rendah, saat ini di sekelilingnya sudah rapat dengan bangunan permanen.
Bahkan pintu masuknya yang berada di sisi utara, telah rapat dengan bangunan rumah warga dan genangan limbah. Bagian depan atau pintu masuk berbentuk paduraksa dengan ukuran lebar 1 meter dan tinggi 2 meter.
Pada ambang atas (pintu masuk) terdapat relief burung Beri yang kini telah rusak. Bangunan depan ini di dalamnya terdapat anak tangga yang menurun menuju lorong ke arah selatan, dengan panjang 17,5 meter dan lebar 2 meter. Adapun lorong ini, terbuat dari batu bata dengan konstruksi pasangan rollag melengkung bagian atas.
Ketika berhasil masuk ke gua, aroma dari limbah yang mengalir di dalamnya sangat menyengat. Aliran limbah ini mengalir pelan melalui lumpur lantai gua dan menuju arah selatan (area taman).
Berbagai jenis sampah berserak mulai ranting, pembalut wanita, popok bayi, sampah plastik dan lain-lain. Bangunan ini membentang menuju taman di bagian belakang dan berbentuk leter L.
Di sisi belakang bangunan, terdapat tiga pintu ke arah barat, selatan, dan timur serta dua buah jendela di kanan dan kirinya.
“Zaman dulu di balik pintu dan jendela itu ada kayu jati gede-gede, tapi sudah diambil orang,” kata sesepuh setempat yang juga Juru Kunci Goa Seluman, Harno Prayitno (87). (*)