Liputan Khusus Harga Gila Rumah di Yogya

Real Estate Super Mewah Tawarkan Konsep Living Green

Harga jual rumah di Hyarta Residence yang jumlah unitnya hanya 75 ini termurah Rp 2,8 miliar, dan yang paling mahal Rp 4,2 miliar.

Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: tea

Laporan Reporter Tribun Jogja, Hendy Kurniawan

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Harga tanah dan properti di sejumlah wilayah strategis Kota Yogya dan Sleman kini diketahui makin fantastis. Harga jual rumah di Hyarta Residence yang jumlah unitnya hanya 75 ini termurah Rp 2,8 miliar, dan yang paling mahal Rp 4,2 miliar. Luasan tanah antara 180 meter persegi hingga 240 meter persegi. "Ini harga 2012," ujar Head of Marketing Hyarta Residence, Feronica.

Real estate ini menawarkan konsep living green. Taman keliling dan pepohonan rimbun menjadi wajah utama. Sedangkan arsitektur bangunan condong ke arah minimalis modern. Salah satu yang ditonjolkan adalah arsitektur joglo yang diaplikasikan pada bentuk atap.
Kualitas material yang digunakan untuk rumah berharga selangit itu tentunya sangat prima. Feronica menjelaskan, struktur utama tiap rumah menggunakan beton bertulang SNI. Sedangkan beton memiliki mutu K-225.

Untuk struktur lantai dasar dan carport adalah beton bertulang finishing coral Sikat 40x40 cm ex Cisangkan, dengan lantai dicor. Dinding utama memakai pasangan bata merah, plester konvensional, acian system dry mix ex mortar utama. Sementara untuk urusan pewarna dinding dipercayakan kepada cat merek berkualitas tinggi Mowilex dengan garansi pabrik.

Tak cukup di situ, kemewahan unit rumah di Hyarta Residence terlihat pada kamar mandi. Menggunakan dasar pasangan bata merah dan plester konvensional, diakhiri tampilan keramik bermutu tinggi Indogress.

Pada lantai utama, menggunakan homegenous tile ex Indogress, dan lantai area service ceramic tile ex Roman. Sedangkan trap tangga utama memakai kayu kamper finish melamic. Feronica membenarkan jika pasar perumahan kelas premium di DIY sangat baik.

Hal ini didasarkan pada pengalamannya pada Hyarta Residence. Dalam waktu dua tahun semua unit yang disediakan terserap habis. "Target market kami jelas kalangan menengah ke atas dari Yogyakarta maupun luar kota," imbuhnya.

Project Manager Hyarta Residence, Panji Wijaya memaparkan terdapat tiga klasifikasi konsumennya. Pertama orang yang ingin berinvestasi. Kedua adalah orang yang ingin mencari tempat tinggal, baik untuk diri sendiri atau anaknya yang sekolah di Yogya. Ketiga, rumah tersebut dimanfaatkan untuk perkantoran.

Perbandingan konsumen di Hyarta adalah 60:40. Artinya 40 persen berasal dari dalam DIY, sisanya pembeli dari luar kota. Seperti Semarang, Jakarta, Lampung, Balikpapan, Samarinda dan sebagainya. "Boleh dibilang mereka ini yang berinvestasi," kata Panji. (*)

Skandal Kuliner Terkait :
Bakpia Tidak Asli Merajalela di 7 Titik Penting Yogya

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved