KTT APEC 2013

SBY Banggakan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di KTT APEC

Presiden SBY mengatakan, Indonesia masih mampu melakukan pertumbuhan ekonomi yang positif di tengah ketidakpastian kondisi perekonomian global

Editor: Mona Kriesdinar
zoom-inlihat foto SBY Banggakan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di KTT APEC
Tribunnews.com/ Dany Permana
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono

TRIBUNJOGJA.COM, NUSA DUA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, Indonesia masih mampu melakukan pertumbuhan ekonomi yang positif di tengah ketidakpastian kondisi perekonomian global. Kondisi itu bisa menjadi keuntungan bagi Indonesia dibanding negara lain.

Sesuai dengan prediksi lembaga Dana Moneter Internasional (IMF), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2013 ini diprediksi mencapai 6,3 persen dan 6,6 persen di 2014. "Pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia itu lebih dari dua kali dari pertumbuhan rata-rata ekonomi dunia," kata Presiden saat membuka APEC CEO Summit "Reshaping Global Priorities The View from Modern Indonesia" di Bali International Convention Center, Minggu (6/10/2013).

Ia menambahkan, kondisi perekonomian global di tahun ini memang begitu dinamis. Beberapa negara di Asia Pasifik sudah ada yang mengalami pemulihan dan menunjukkan pertumbuhan yang positif. Sementara negara-negara sekawasan seperti Brazil, Rusia, India dan China justru mengalami sedikit perlambatan ekonomi. Kondisi tersebut disebabkan oleh defisit neraca perdagangan, arus modal asing yang keluar dan depresiasi nilai tukar.

"Sehingga dengan pertemuan negara-negara anggota APEC ini justru menjadi momentum untuk bisa meningkatkan perekonomian masing-masing negara," tambahnya.

Saat ini, negara-negara anggota APEC menguasai 54 persen perdagangan produk domestik dan 44 persen perdagangan global. Di negara sekawasan, negara-negara APEC ini mengalami kenaikan jumlah perdagangan tujuh kali lipat sejak 1989, mencapai 11 triliun dollar AS di 2011.

Selama 25 tahun terakhir, tarif rata-rata negara APEC mengalami penurunan sekitar 70 persen. Begitu juga dengan biaya penyelenggaraan bisnis lintas negara mengalami penurunan sebesar 5 persen sehingga bisa menghemat ongkos bisnis sebesar 59 miliar dollar AS.(*)

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved