Kulonprogo Luncurkan Padi Premium Melati Menoreh
Tanam perdana padi jenis tersebut dilakukan Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo bersama Ketua MPR RI, Sidarto Danusubroto di persawahan dusun Ngipikrejo
Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: Mona Kriesdinar
Laporan Reporter Tribun Jogja, Singgih Wahyu Nugraha
TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Pemerintah Kabupaten Kulonprogo meluncurkan jenis padi premium Melati Menoreh atau beras Menor. Jenis padi ini diharapkan bisa menjadi beras unggulan yang menjadi produk khas Kulonprogo. Tanam perdana padi jenis tersebut dilakukan Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo bersama Ketua MPR RI, Sidarto Danusubroto di persawahan dusun Ngipikrejo, desa Banjararum, Kalibawang, Jum’at (13/9) siang.
Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo mengatakan, tanam perdana dilakukan di lahan seluas 40 hektar dengan menggandeng kelompok petani Ngudi Rejeki. Hasto optimis bahwa hasil panen padi Menor itu akan berhasil. Ditargetkan, dari tanam perdana ini bisa dihasilkan beras Menor minimal 240 ton dalam masa panen pertama. Diperkirakan 3-4 bulan mendatang padi tersebut sudah bisa dipanen.
“Ini jenis baru, varietas asli kulonprogo yang belum pernah dibudidayakan secara massal. Diharapkan bisa menyaningi kualitas premium dari beras impor,” kata Hasto.
Dijelaskannya, pola penanaman akan dilakukan oleh petani Kulonprogo sendiri. Penanaman dan pengolahan beras Menor pada tahap awal ini diserahkan pada kelompok tani yang beraggotakan sekitar 40 orang. Nantinya, penanaman akan dilakukan secara bergilir untuk kelompok-kelompok tani yang lain.
Dengan begitu, lanjut Hasto, diharapkan jenis padi tersebut tidak dimiliki daerah lain. Selain itu, pendistribusian produk berasnya juga akan dikoordinir melalui gabungan kelompok tani (gapoktan) di Kulonprogo. Meskipun pada penjualannya nanti bisa didistribusikan ke mana saja, namun Hasto menegaskan bahwa beras tidak akan dijual kepada tengkulak.
“Jenis padi ini juga segera kita sertifikasikan supaya tidak diambil orang lain. Yang paling penting, tidak boleh dijual pada tengkulak. Kelompok tani bersatu padu mengolah sendiri dan menjualnya melalui gapoktan. Kalau bisa dikemas dengan baik, dekembangkan secara organik, saya yakin rasanya bisa wow,” imbuhnya.
hasto menambahkan, beras Menor nantinya bisa menjadi kebanggan daerah dengan kualitas premium yang dihasilkan. Hal ini sebagai upaya mewujudkan kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan Kulonprogo meski selama ini daerah tersebut juga mengalami surplus beras dengan produksi gabah mencapai 12 ribu ton pertahun. Sementara, angka konsumsi beras di Kulonprogo hanya di angka 47 ribu ton.
Kepala Dinas Pertanian DIY, Sasongko, mengatakan, kebutuhan beras di DIY selalu meningkat setiap tahunnya. Pihaknya menyambut baik munculnya varietas padi Menor tersebut. Setelah lulus sertifikasi, diharapkan bisa dikembangkan dengan keunggulannya. Di antaranya umur tanam yang pendek hanya berkisar 105-110 hari, ditanam secara organik, tahan hama, dan perawatan yang sederhana.
“Harus dijaga kualitasnya dan jangan sampai diaku daerah lain. Ini bisa jadi varietas aset unggulan DIY,” kata dia.
Ketua MPR RI, Sidarto Danusubroto, mengatakan, adanya varietas padi unggulan tersebut bisa menjadi modal mewujudkan food security, yakni termasuk swasaembada, kedaulatan, dan ketahanan pangan. Dengan begitu, bangsa ini tidak perlu lagi mengimpor bahan pangan dari luar negeri. “ini satu poin yang patut diteladani. Upaya untuk memandirikan daerah dan membantu bangsa ini dari ketergantungan impor,” kata dia.(TRIBUNJOGJA.COM)