Di Rumah Patangpuluhan, Bung Karno Sempat Tinggal Selama 40 Hari

Teka teki berapa lama dan kapan Bung Karno tinggal dan sembunyi di rumah Ir Purbodiningrat saat menghindari buruan pasukan Belanda terjawab sudah

Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: Mona Kriesdinar

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Teka teki berapa lama dan kapan tepatnya Bung Karno pernah tinggal dan sembunyi di rumah Ir Purbodiningrat saat menghindari buruan pasukan Belanda terjawab sudah. Anggrita, yang merupakan cucu Purbodiningrat dari putri ke tiga, Siti Salmiati, mengungkapkan fakta itu saat ditemui di rumah bergaya Indis di Patangpuluhan 22 Yogyakarta, Selasa (16/7).

Wanita yang akrab disapa Rita ini menuturkan kisah Bung Karno yang diperolehnya dari sang ibu yang kala itu masih berusia belasan. Termasuk cerita yang didapat dari sang nenek atau istri Purbodiningrat.Tepatnya pada tahun 1948 Bung Karno bersama Fatmawati dan dua anaknya, Guntur Soekarno Putra serta Megawati Soekarno Putri tinggal di rumah Purbodiningrat.

"Saya lupa bulan apa persisnya beliau tinggal di sini. Tapi menurut cerita ibu dan eyang, Bung Karno ada di sini sekitar 40 hari," ujar Rita, saat mendampingi sang bulek, Siti Ismusilah, menemui petugas dari BPCB dan Dinparbud Yogyakarta saat melakukan pendataan rumah yang diduga cagar budaya itu.

Ia pun menuturkan kisah bagaimana Bung Karno sering menggelar rapat bersama menteri jajaran kabinet di ruang tamu seluas 11x7 meter. Termasuk ketika Presiden pertama RI ini menggunakan ruang kerja sang kakek yang persis berada di sebelah selatan kamar tidur utama.

Pada kesempatan itu, Rita juga memerlihatkan ranjang single bed yang dulu digunakan Bung Karno. Ranjang itu kini disimpan di kamar sebelah barat bersama barang-barang peninggalan lain, seperti ranjang besi, lemari hias, rak buku, album foto dan lainnya. Sedang satu ranjang lain yang digunakan Bung Karno saat itu kini dipakai Siti Ismusilah yang menempati kamar utama seluas 5x10 meter yang berada di sisi timur ruang keluarga.

Kamar itu lah yang dulu digunakan Bung Karno bersama istri dan dua anaknya selama masa persembunyian. Purbodiningrat adalah kolega Bung Karno ketika sama-sama menempuh pendidikan insinyur di Technische Hoogeschool te Bandoeng atau saat ini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung.

Ranjang kayu jati kuno dengan pelitur berwarna coklat tua ini masih sangat terawat. Tidak terlihat rapuh atau keropos dimakan usia. Bahkan guratan serat kayu masih terlihat sampai ke bagian tiang penyangga yang berfungsi untuk mengaitkan kelambu.

"Semua masih asli seperti dulu. Tidak ada yang berubah baik di detail rumah sampai perabotannya. Cuma cat dindingnya saja yang sudah diganti dan beberapa eternit dipasang baru," jelas Rita yang sedari kecil sampai umur 24 tahun tinggal di rumah bersejarah ini. Sampai akhirnya meninggalkan rumah tersebut setelah menikah.

Benar apa yang disampaikan wanita 53 tahun ini, hampir sebagian besar perabot rumah ini adalah barang kuno. Vas bunga, mesin jahit kuno, telepon, lemari hias, lampu gantung, set meja makan dan masih banyak lainnya. Bahkan di ruang tengah masih terpajang pesawat radio kuno bermerek Philips type BX dengan kondisi sangat utuh. Meskipun radio ini tidak bisa dioperasikan lagi karena rusak dan spare partnya langka.

Dituturkan Rita, jika keluarga besarnya memang memutuskan untuk menjual rumah dengan luas tanah total 4.213 meter persegi ini. Harga yang ditawarkan adalah Rp 5 juta per meter untuk tanah sekaligus bangunan. Hanya saja, pihak keluarga hanya menerima penawaran secara tertulis yang diwakilkan oleh putra tertua Purboningrat yang masih hidup dan kini tinggal di Jakarta, yaitu Ir Rumiaji Purbodiningrat.

Disinggung mengenai kabar ketertarikan Megawati Soekarno Putri terhadap rumah ini, Rita tidak menampiknya. Sekitar beberapa tahun lalu, Puan Maharani sempat datang untuk melihat-lihat kondisi rumah. Namun sampai hari ini tidak ada kabar lebih jauh mengenai ketertarikannya. "Engga ada kabarnya. Mungkin engga jadi ya," tutur Rita lalu tersenyum.

Tak cukup disitu, Rita mengisahkan ada tokoh lain yang menyempatkan diri berkunjung ke rumah ini dan menanyakan harga jualnya sekitar enam bulan lalu. Orang itu adalah GKR Bendara yang merupakan putri bungsu Sri Sultan HB X. "Cuma lihat-lihat dan nanya harganya berapa," imbuh wanita yang juga seniman tari ini.

Pada kesempatan itu, Kasi Pelindungan Pengembangan dan Pemanfaatan BPCB Yogyakarta, Wahyu Astuti menyatakan jika kondisi rumah secara umum memiliki tingkat keutuhan yang sangat baik. Bahkan handle pintu sekaligus kuncinya masih bisa digunakan dengan normal sejak rumah ini selesai dikerjakan tahun 1938.

Dipaparkan, bisa dikatakan 98 persen material penyusun maupun detail rumah dengan lima kamar ini masih asli. Sebab itu, ia berharap jika negara dapat membeli untuk kemudian dimanfaatkan sebagai museum atau penanda sejarah berdirinya republik ini. Jikalau dibeli masyarakat umum, pihaknya akan mengawal pemilik baru untuk tidak melakukan pembongkaran atau renovasi yang merubah fasad atau langgam bangunan.

Sebab, bangunan yang diduga cagar budaya harus diperlakukan sama dengan bangunan yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Dengan begitu, BPCB Yogyakarta siap memberi masukan ketika si pemilik baru hendak melakukan revitalisasi atau renovasi.

"Kami akan pantau siapa pembelinya dan siap memberi advice saat ingin merenovasi," tukas Wahyu.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved