Pilihan Ketua RT Ala Pilpres di Dukuh Bulu
Seperti Pilpres, pemilihan ketua RT di Dukuh Bulu, Trimulyo, Jetis, Kabupaten Bantul ini dipilih secara langsung oleh warganya.
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Rina Eviana Dewi
Laporan Reporter Tribun Jogja, Yudha Kristiawan
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sudah dua kali rakyat negeri ini mengalami pemilihan Presiden (Pilpres) secara langsung yaitu pada tahun 2004 dan 2009 silam. Sudah cukup membuktikan bahwa ajang pesta demokrasi terbesar tersebut memberikan pelajaran berharga bagi rakyat dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara.
Rupanya, melek dunia politik sudah bukan milik warga perkotaan dengan tingkat pendidikan yang lebih merata saja, namun mulai merambah ke desa-desa. Salah satunya dapat dijumpai dalam pelaksanaan pemilihan ketua rukun tetangga (RT) di Dukuh Bulu, Trimulyo, Jetis, Kabupaten Bantul ini.
Umumnya pemilihan ketua RT dilakukan dengan sistem aklamasi, yaitu penunjukkan langsung oleh warga, bahkan ada pula yang turun-temurun. Tidak demikian dengan pemilihan ketua Rt di dusun yang memiliki delapan RT ini.
Untuk pertama kalinya, semenjak puluhan tahun lalu, pilihan digelar secara langsung, layaknya proses Pilpres.
"Kami bersepakat, untuk periode ini pemilihan ketua Rt dilakukan secara langsung oleh warga. Biaya pemilihan secara swadaya dari warga, menghabiskan dana kurang lebih Rp 3,5 Juta khusus untuk Rt 2," ujar ketua panitia pemilihan, Asmono di sela penghitungan suara, Minggu (18/11/2012).
Ia menuturkan, bukan tanpa sebab kata mufakat untuk menggelar pemilihan ketua Rt secara langsung ini diperoleh akan tetapi semua diawali secara pelan-pelan. Caranya, beberapa warga termasuk dirinya mensosialisasikan, kemudian memusyawarahkannya bersama-sama.
"Ya awalnya memang seperti kurang kerjaan, kenapa repot-repot seperti ini. Namun itu semua sudah kesepakatan warga, demi belajar bersama bagaimana menjalankan demokrasi," terang Asmono.
Sofiana (25), warga setempat mengaku optimis sistem pemlihan langsung pejabat ditingkat pedesaan bakal sukses. " Saya sih optimis saja warga akan maju pola pikirnya dengan model pilihan secara langsung seperti ini. Tadi pas mau coblos di bilik juga langsung yakin mencoblos ketua RT favorit saya,," tuturnya sembari tersenyum.
Pada pemilihan ketua Rt kali ini, terdapat lima calon yang telah diusulkan oleh warga. Salah satunya ketua RT incumbent, Widoto (45).
"Meskipun saya dulu menjabat sebagai ketua Rt hanya ditunjuk, kini saya mendukung sepenuhnya dilakukan pemilihan secara langsung seperti ini," ujarnya di sela pemilihan.
Ia berujar, meskipun nantinya tidak terpilih, ia bakal tetap menerima karena sudah merupakan sebuah amanah dan konsekuensi dari penyelenggaraan pemilihan secara langsung. "Ya kalau kalah terima saja, kan memang warga yang menghendaki," ungkapnya.
Calon lain, Slamet (30) menyatakan, dirinya sangat setuju bila pemilihan seperti ketua Rt ini dilakukan secara langsung. " Sebagai generasi muda saya sepakat kalau pilihan langsung. Hasilnya bisa dipertanggungjawabkan bersama-sama, karena sudah sepakat taat aturan dan melalui mekanisme pemilihan," terangnya.
Tiga calon lainya yaitu, Broto (69) Wagimin (50) serta Maryadi (30) menyatakan hal senada. Mereka mengamini pilihan secara langsung adalah cara yang tepat untuk memeroleh seorang pemimpin yang berkualitas.
Sementara itu, menurut Kepala Dukuh Bulu, Saridi (58), menyatakan bangga terhadap warganya yang telah mau mempraktekkan demokrasi secara mandiri. "Ini merupakan bentuk kesadaran berdemokrasi yang tinggi meskipun dilakukan ditingkat terbawah dalam sistem pemerintahan saat ini," ujarnya.
Ia melanjutkan sistem pemilihan langsung dilakukan dengan cara mencoblos surat suara yang didalamnya terdapat foto para calon ketua Rt. " Kita undang setiap warga yang sudah mempunyai hak sebagai pemilih, seperti pada Pemilu maupun Pilpres. Hanya saja, kita tidak batasi umur pemilih. Yang ada adalah syarat bagi pemuda yang sudah menjadi anggota karangtaruna punya hak untuk memilih," terangnya.
Sardi menambahkan, sistem pemilihan langsung seperti ini, baik untuk edukasi pemaknaan demokrasi. "Bila sudah terbiasa dengan penyelenggaraan pesta demokrasi, maka warga akan dengan sendirinya teredukasi," imbuhnya.(*)