Sang Jagal Ular Kobra dari Bantul
Muhammad Nur Santoso (31) pria asal Bantul ini setiap hari menyembelih ratusan ular kobra
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Rina Eviana Dewi
Apalagi harus berhadapan dengan ular kobra, salah satu jenis ular yang mempunyai racun paling mematikan di dunia. Namun tidak bagi pria bernama Muhammad Nur Santoso (31) ini, setiap hari ia beradu dengan racun ular kobra yang mematikan.
Jagal ular kobra adalah profesi yang dijalaninya hingga saat ini. Nur panggilan akrabnya mewarisi kemampuan sang ayah sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
"Awalnya cuma berani membelai dan mengelus ular yang tak berbisa saja, lama-lama berani pegang dan main-main dengan ular kobra," ujarnya saat ditemui Tribun Jogja beberapa waktu lalu.
Nur bercerita, dulu sekitar tahun 1985 Pak Seger (ayahnya. Red) mulai berprofesi sebagai jagal ular kobra saat diminta oleh seseorang untuk mencarikan ular kobra.
"Dulu bapak pertama buat hiasan dari luwak (musang jawa. Red) dan ular yang diawetkan, lalu ada orang minta dicarikan ular, mulai saat itu bapak pindah profesi mencari ular sendiri untuk dijual," ungkapnya.
Lanjutnya, semenjak saat itulah usaha menjual daging ular dilakoni sang ayah. Mulanya semua ular disembelih untuk diambil dagingnya, namun kemudian beralih khusus ke ular kobra, karena lebih menjanjikan. "Semua bagian ular kobra bisa dimanfaatkan, kecuali kepalanya saja yang kita kubur," ungkapnya.
Nur melanjutkan, daging disetor ke restoran di Yogyakarta, untuk empedu terkadang langsung dibeli oleh pelanggannya untuk dijadikan obat. "Kulitnya diambil oleh pengepul di wilayah Boyolali (wilayah Jawa Tengah), empedunya terkadang juga langsung dipesan pelanggan untuk obat, satunya bisa dibeli Rp 30 ribu," ujarnya.
Saat ini Nur mengaku sedikit kesulitan mendapatkan pasokan ular kobra, padahal ketika tahun 1997 an, para pengepul dari berbagai wilayah di seluruh jawa mudah mendapatkan ular tersebut. Para pengepul ini berasal dari wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti, Demak, Gombong, Sragen dan Ngawi.
"Bahkan dulu sehari bisa menyembelih 1000 ekor ular kobra. Saat ini karena habitatnya sudah berkurang, ular kobra sulit didapatkan, sehingga tidak setiap hari kita menyembelih, kita stok dulu mengatisipasi paceklik ular. Satu ekor ular kobra dari pengepul saya hargai Rp 15 ribu," ungkapnya.
Menurut Nur, saat musim penghujan adalah paling banyak didapat ular kobra. Bila musim kemarau ular yang biasa mendesis dan menengadahkan tubuhnya saat merasa terancam ini bersembunyi di sarangnya untuk bertelur. "Saat ini paling sekitar 200-300 kobra saja yang disembelih, itupun tidak setiap hari," ungkapnya.
Dibantu, kakak, ibu dan empat orang tenaga lepas, Nur menyembelih ular kobra tersebut satu demi satu. Bukan tanpa resiko, ia mengaku sedikitnya sudah 11 kali pernah digigit ular kobra, bahkan ibunya pernah harus dilarikan ke rumah sakit karena racun terlanjur menyebar ke seluruj tubuh.
"Memang resikonya besar, tapi kita tetap hati-hati. Saya pernah 11 kali tergigit kobra, ibu saya juga pernah tapi bisa diantisipasi asal tahu caranya," ujar pria beranak satu ini.
Nur pun memberikan tips bagaimana bila bertemu ular kobra. " Saat bertemu kobra, jangan panik, kalau jarak dekat lebih baik jangan bergerak sedikitpun, karena akan memicu reaksi kobra yang punya sensor gerak ini," paparnya.
Nur melanjutkan, hal pertama yang harus dilakukan ketika terkena gigitan ular kobra adalah segera membuat darah mengalir sederas mungkin, agar racun segera keluar. " Jangan diikat pada bekas gigitan, karena akan menghambat aliran darah justru. Buat lukanya agak lebar, supaya darah cepat mengucur," terangnya.
Setelah itu baru kemudian dibasuh dengan ari hangat yang dicampur garam dapur. Sementara itu ketika terkena semburan ulaer kobra dibagian muka, jangan sekali-kali kemudian diusap, imbuh Nur. " Kalau diusap justru bisa menyebabkan kebutaan pada mata," tandasnya.
Nur menambahkan, bila racun sudah menyebar dan korban gigitan ular kobra mulai muntah dan berak, maka harus segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan suntikan anti bisa.
Nur menuturkan, ular kobra akan jinak bila diperlakuan dengan lembut. Bila cuaca gerah, ular kobra layaknya manusia, bisa lebih agresif karena merasa tidak nyaman.
Saat ini usaha penjualan daging ular kobra milik Nur benama Kobra Jaya ini, bisa ditemui di Jalan Imogiri Barat Km 8,5, Sudimoro, Timbulharjo Sewon Bantul. (*)