Liem Sioe Liong Sempat Jadi Orang Terkaya

melejit setelah dikait-kaitkan dekat dengan penguasaha 32 tahun, Soeharto

Tayang:
Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA- Satu per satu anggota Geng Empat Sekawan Konglomerat besar pada Orde Baru berpulang. Terkini, pengusaha ternama Sudono Salim alias Liem Sioe Liong meninggal dalam usia 95 tahun di Singapura, Minggu (10/9/2012) pukul 14.40 WIB.

Dia salah satu konglomerat terkaya yang bisnisnya melejit setelah dikait-kaitkan dekat dengan pengusaha 32 tahun, Soeharto.

Franciscus Welirang, menantu Om Liem, sedang berada di Denpasar, Bali saat mertuanya meninggal. "Saya tidak tahu persis mengenai meninggalnya beliau. Saya mendapat kabar, pukul 14.45 WIB, meninggal di Singapura. Pasti meninggalnya sebelum jam itu," kata Frangky sapaan Franciscus Welirang saat dihubungi Tribunnews.com, Minggu (10/6/2012) malam sedang berada di Bali.

Om Liem, satu dari empat sekawan konglomerat pada era Soeharto, menikahi Liliani alias Lie Las Nio. Mereka dikaruniai empat anak, tiga laki-laki dan seorang perempuan, yakni Albert Halim, Andre Halim, Anthony Salim, dan Mira Halim. Frangky menantu Om Liem dari putri bungsu, Mira Halim.

Franhky masih terkenang dengan sosok pria yang dikenal sebagai orang terkaya di Indonesia dan Asia. Ketua Komite Ketahanan Pangan Kamar Dagang dan Industri Indonesia itu tak pernah melihat kalau pria yang akrab diapanggil Om Liem itu berkeluh kesah.

"Biasa-biasa saja, ya namanya orangtua. Saya nggak pernah memperhatikan dia mengeluh," ujar Franngky Welirang.

Frangky terakhir bertemu dengan Liem Sio Liong pada saat ia menjenguk dirawat di Singapura. Pada saat itu Frans tidak melihat kondisi Om Liem menurun. "Terakhir saya bertemu, kurang lebih 2 bulan yang lalu, waktu itu di Singapura," kata Frangky.

Sudono Salim pernah merajai orang terkaya di Indonesia dan Asia. Konglomerat yang pernah tenar di zaman orde baru ini bahkan masuk dalam daftar 100 orang terkaya di dunia.

Sementara Presiden Direktur (Presdir) PT Bank Central Asia Tbk Jahja Setiaatmadja menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya pendiri Indofood dan BCA Sudono Salim atau yang akrab disapa Om Liem.

"Kami kehilangan satu tokoh pengusaha yang sederhana tetapi telah menciptakan begitu banyak lapangan kerja bagi Indonesia," kata Jahja ketika dikonfirmasi Tribunnews.com, Minggu.

Salim lahir di Fuqing, Fujian, China, sebagai anak kedua dari keluarga petani. Ia meninggalkan Fujian tahun 1936 untuk menemui kakaknya yang merantau ke Medan Sumatera Utara, Liem Sioe Hie yang menikahi Zheng Xusheng.

Ketika berbisnis di Medan, ia menekuni perdagangan minyak kacang dan cengkeh kemudian berkembang pesat dengan memproduksi rokok kretek. Dia juga memasok peralatan kesehatan semasa kebutuhan prajurit ABRI pada masa revolusi.

Ia sempat dikaitkan dengan pemasokan senjata kepada tentara Indonesia dalam menghalau penjajah Belanda, namun tudingan dibantahnya.

Setelah Indonesia merdeka, Sudono Salim menjadi pengusaha kaya-raya karena memonopoli bisnis cengkeh. Bisnis berkaitan dengan tentara inilah yang membawanya berkenalan dengan Soeharto. Namun ia tidak setuju atas tudingan banyak pihak yang menyebut kerajaan bisnisnya berkembang karena bekerja sama dengan Soeharto, perwira tinggi tentara yang berkuasa sebagai Presiden selama 32 tahun, 1966-1998.

Setelah pindah ke Medan pada tahun 1952, Salim memperluas bisnis perdagangannya dengan membentuk koneksi dengan lain pengusaha etnis China di Singapura dan Hong Kong. Pabrik sabunnya menjadi salah satu pemasok utama ke Tentara Nasional Indonesia.

Dia kemudian diperluas ke tekstil dan perbankan, yang akhirnya membentuk bank swasta terbesar di Indonesia, Bank Central Asia (BCA). Om Liem mendirikan Central Bank Asia tahun 1957, kemudian menjadi Bank Central Asia (BCA) tahun 1960.

Setelah merger pada tahun 1968, ia mendapatkan hak untuk monopoli impor cengkeh. Sebuah perusahaan patungan (joint venture) dengan pebisnis lain Hokchia jadi produsen terbesar tepung di Indonesia.

Sudono Salim bersama sejumlah pengusaha kemudian beraliansi. Mereka disebut sebagai konglomerat yang semasa Orde Baru dikenal sebagai anggota empat sekawan (Gang of Four), yakni Om Liem bersama Sudwikatmono, Ibrahim Risjard dan Djuhar Sutanto. Dari empat sekawan itu, tingga Djuhar yang masih hidup. (*)

Baca : Sosok Liem Sioe Liong

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved