Satu Abad HB IX
Pameran Keistimewaan Yogyakarta
memperingati Se-Abad Sri Sultan Hamengku Buwono IX serta 2,5 abad Ngayogyakarta Hadiningrat
Penulis: rap | Editor: Iwan Al Khasni
Sebanyak 124 seniman mempresentasikan karyanya sejak 13 hingga 27 April 2012. Menurut Sapta Rahardja selaku Ketua Pameran, antusias pengunjung pada pameran ini cukup tinggi. Pada pembukaan acara, pengunjung yang hadir termasuk tamu undangan mencapai seribu orang.
Seniman undangan pameran di antara lain Agapetus A Kristiandana, Agus ‘Baqul’ Purnomo, Bob Yudhita Agung, Bayu Widodo, Dunadi, Eko Nugroho, Entang Wiharsa, Heri Dono, Venzha Christiawan, Jumaldi Alfi, Mella Jaarsma, Nasirun, Nindityo Adi Purnomo, S.Teddy D, Terra Bajraghosa, Theresia Agustina Sitompul serta Tita Rubi. Sedangkan seniman muda berbakat yang lolos seleksi kuratorial yang mengampil formulir kepesertaan pameran antara lain I Gede Oka Astawa, A Gde Suryawan, Ida Bagus Komang Sindu Putra, Iqro Ahmad Ibrahim WS, Iqi Qoror, dan Titus Garu Himawan.
Menurut kurator pameran, Dwi Marianto, Pameran ini menghadirkan interpretasi kreatif atas potensi-potensi Yogyakarta dari seniman terpilih melalui karya seni rupa. Para seniman berkarya melalui beragam media baik yang tradisional, konvensional, maupun yang non konvensional seperti, batik, terakota, keramik, lukisan, grafis, patung, video, film, animasi, instalasi, seni di situs spesifik, performance art, digital print, wayang, mixed media dan lain lain.
Para seniman yang mengikuti pameran ini, menurut Dwi Marianto adalah mereka yang terpilih dikarenakan karyanya sudah teruji dan memiliki track record seni rupa yang berkarakter kuat, khusus dan istimewa.
Pameran yang dimotori oleh Barak Jinem ini juga dilakukan untuk menampilkan karakter atau keistimewaan Yogyakarta melalui karya seni mereka dengan tanpa keluar dari koridor kekhasan. Semua karya di pameran ini pun dapat dijual dan dikoleksi oleh siapa pun yang berminat, tentunya sesuai dengan harga yang sudah ditentukan oleh masing-masing seniman.
Secara prinsip, pameran ini mengangkat tema dasar ‘Keistimewaan Yogyakarta’. Menurut Sapta Rahardja, secara teknis pameran ini juga didukung dengan penerbitan buku pameran, “sehingga potensi estetis, seni, dan sosio-kultural Yogyakarta yang multikultural, dinamis, dan kritis terhadap berbagai bentuk kolonialisme bukan saja terlihat secara visual dalam pameran, tetapi juga dapat terbaca secara terus-menerus melalui buku pameran yang diterbitkan,” ujarnya ketika ditemui Tribun Jogja di JNM.
Pada kesempatan ini, Sapta Rahardja yang akrab disapa Athonk ini juga memamerkan lukisannya berjudul ‘Genesis: The Citadel, The Underground And Beyond’. Menurutnya The Citadel merupakan perwujudan dari Negeri Yogyakarta yang merupakan Kota dalam benteng yang menjadi pelindung dan penjaga budaya Jawa. Sedangkan ‘The Underground’ adalah usahanya memperlihatkan kehidupan bawah tanah di Yogyakarta, “Hidup dan bersosial, membentuk jaringan sosial yang seakan terpisah dengan dunia, padahal sebenarnya kehidupan bawah tanah juga merupakan bagian dari kehidupan sosial secara luas,” ungkapnya.
Diadakannya pameran ini sendiri pun bukan tanpa tujuan, beberapa sasaran utamanya adalah untuk mengenang dan menemukan jejak langkah perjuangan Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat agar dapat dikembangkan dan dilestarikan, Memperkenalkan karya-karya seni dari atmosfir kebudayaan Yogyakarta. Pameran ini akan ditutup dengan Konser Musik “Yogyakarta Tanah Jiwa Merdeka” yang menampilkan Sirkus Barock & Sawung Jabo pada Jum’at, 27 April 2012 mendatang. (TRIBUNJOGJA.COM)