Satu Abad HB IX
Air Susu Untuk Republik Karya Ardian Kresna
Goresan cat acrylic di atas kanvas ini menceritakan tentang pergantian jaman dan kritik kekuasaan,
Penulis: rap | Editor: Iwan Al Khasni
Meskipun berubah, namun bagaimana dengan cara pandang masyarakat yang telah dilatih ratusan tahun? “siapa yang dekat dengan kekuasaan, niscaya ia mempunyai kekuasaan pula”. Struktur pada dasarnya dan pada kenyataannya adalah alat belaka, sedang cara pandang (the way of thingking or saying) adalah yang penting,” ujar sang pelukis yang juga Penulis “Sejarah Panjang Mataram : Menengok Berdirinya Kesultanan Yogyakarta” (Divapress, 2011) ini.
Menurut Ardian, sepanjang cara pandang terhadap ‘kedekatan’ seperti ini masih diimani, perombakan struktur tidak akan berarti apa-apa. Yang terjadi adalah dengan mengupayakan bagaimana aturan dan struktur itu dapat disiasati (dan kalau perlu dirubah) demi harmonisasi.
Paska reformasi 1998, bisa jadi merupakan kelanjutan dari pertarungan golongan-golongan yang pro pembaratan dan golongan yang anti pembaratan. Realitasnya golongan pro pembaratan telah memenangkan pertarungan dimana semua konsep kenegaraan dan ekonomi meniru konsep-konsep yang berasal dari Barat.
Ardian mengatakan bahwa orang Jawa memandang kekuasaan berdasarkan hakikatnya yang bersifat homogen, bersifat satu dan sama saja di mana pun ia menampakkan diri. Paham demikian, lanjutnya, berarti bahwa pemusatan kekuasaan di satu tempat dengan sendirinya berarti penciutan terhadap kekuasaan di tempat-tempat lain dan harus memenuhi kewajibannya untuk mendukung kekuasaan yang tunggal yang agung, sakti dan kharismatik itu demi keharmonisan dan keselarasan kosmos ini. (TRIBUNJOGJA.COM)