Longsoran Purba di Alur Kali Boyong

Tidak ada catatan sejarah, kecuali jejak geologi yang bisa diuji melalui tes stratigrafi dan kajian kebumian dan kevulkanologian.

Tayang:
Editor: Setya Krisna Sumargo
Laporan Wartawan Tribun Jogja, Iwan Al Khasni, Setya Krisna Sumargo 

TAK banyak masyarakat awam yang mengetahui, bukit Turgo di atas Turi dan Plawangan di utara Kaliurang adalah bagian tubuh gunung Merapi yang longsor membentuk gundukan seperti itu. 

Jika diibaratkan tumpeng, kedua bukit itu adalah potongan besar ujung kerucut yang jatih akibat kestabilan gravitasi. Orang sekarang tidak mengerti, karena peristiwa longsornya tubuh Merapi itu terjadi antara 60.000 hingga 8.000 tahun lalu. 

Tidak ada catatan sejarah, kecuali jejak geologi yang bisa diuji melalui tes stratigrafi dan kajian kebumian dan kevulkanologian. Peristiwa itu terjadi di fase akhir Merapi Tua, atau fase awal terbentuknya gunung Merapi yang sekarang. 

Kerucut gunung belum lah terbentuk sempurna. Ekstrusi awalnya berupa lava basaltik yang membentuk gunung Turgo dan Plawangan. Produk aktivitasnya terdiri batuan dengan komposisi andesit basaltic dari awan panas, breksiasi lava dan lahar.

Sektor Boyong merupakan satu-satunya situs geologis ditemukannya endapan debris avalanche dalam volume yang sangat besar. Ini menunjukkan, kawasan itu pernah diterjang aliran piroklastik saat terjadi erupsi hebat di Merapi. 

Hasil analisis carbon dating, debris avalanche di Kali Boyong berumur 1113 (plus minus 50 tahun), atau terjadi pada abad 9 atau awal abad 10. Ciri endapan debris avalanche adalah masih ada struktur batuan asli sebelum longsor. 

Juga ditemukan struktur jigsaw crack, ciri khas endapan tersebut. Contoh perlapisan endapan tua di alur Kali Boyong bisa dilihat persis di tebing bawah gardu pandang sebelah barat kawasan wisata Kaliurang.  

Menurut Noer Cholik, staf BPPTK Yogyakarta menjelaskan, perlapisan itu produk letusan Merapi berulang yang terjadi ratusan atau ribuan tahun. 

"Beberapa lapisan tanah bekas awan panas erupsi Merapi. Untuk menentukan umurnya perlu tes lab," kata Saptono Budi Samodra, anggota tim ekspedisi sekaligus dosen Teknik Geologi UGM. 

Jejak perlapisan endapan awan panas erupsi 2010 juga terjejaki di hulu Kali Boyong, pada jarak sekitar 4 km dari puncak. 

Tandanya ditemukan batuan berongga, warna pekat dan cenderung kasar, bercampur dengan material lama yang terseret aliran lahar.(Tribunjogja.com)
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved