Gerbang Rumah pun Menjadi Simbol Status Sosial
Secara sosiologis kemegahan gerbang rumah merupakan simbol penyeleksian bahwa tidak setiap orang bisa masuk ke dalamnya.
Tayang:
Laporan Reporter Tribun Jogja, Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Benteng atau gerbang sebuah bangunan rumah, perlahan beralih makna dari fungsi awalnya. Tidak hanya dilihat sebagai bagian rumah yang menjadi jalur masuk dan keluar rumah saja, namun juga berfungsi sebagai bagian pertahanan rumah. Lebih jauh lagi, gerbang juga bisa menjadi simbol status sosial seorang pemiliknya, demikian seperti yang diungkapkan Kepala Prodi Arsitektur UAJY, Yogyakarta Christian JST F, Selasa (22/02/2011) saat ditemui di ruangannya.
Christian menjelaskan, gerbang rumah yang mewah atau megah, bisa mencerminkan elitisme sang pemiliknya. "Ada kesan menjaga jarak dengan lingkungannya," katanya saat ditemui di ruangan dosen prodi arsitektur, UAJY.
Dirinya menambahkan, megah dan tidaknya gerbang rumah paling mudah dikenali sebagai simbol status sosial. "Itu sudah otomatis secara tak sadar, pasti ada pemahaman ke arah sana," jelasnya.
Ditemui di tempat terpisah, Zuhdan Azis, Dosen Ilmu Komunikasi UMY, menjelaskan tren pembuatan gerbang rumah yang megah sebenarnya bisa dimaknai beragam oleh masyarakat. "Awalnya mungkin hanya sebagai pintu masuk dan penghubung antara wilayah privat pemilik rumah dan lingkungan luar," paparnya saat ditemui di Laboratorium Ilmu Komunikasi, UMY.
Namun, pembuatan gerbang yang terlalu megah, bisa menjadi batas penegas bahwa ada garis demarkasi cukup jelas yang dibangun di situ. "Kasarnya menegaskan ini wilayah saya dan itu wilayah kamu," katanya.
Zuhdan melanjutkan, secara sosiologis kemegahan sebuah gerbang rumah merupakan simbol penyeleksian yang menandakan bahwa tidak setiap orang bisa masuk ke dalamnya. Hal ini terkait dengan faktor keamanan ataupun privasi seseorang. "Lingkungan masyarakat urban rawan kejahatan, bisa jadi hal ini menjadi pemicu lahirnya gerbang-gerbang yang dibuat sedemikian megahnya," paparnya.
Selain itu, individualisme yang menjadi ciri khas kehidupan perkotaan juga telah ikut memberi alasan untuk membangun batas penegas melalui desain gerbang rumah. "Dalam kondisi ketidakpedulian masyarakat individual, maka perlu tingkat keamanan lebih tinggi, apalagi kalau tidak ada petugas keamanannya," katanya.
Sehingga tidak heran jika dalam perjalanannya, melahirkan kesan tidak ramah maupun terkesan elitis dan anti sosial. Kesan tersebut lahir begitu saja, karena pada dasarnya setiap orang berhak memaknai menurut pemahamannya masing-masing.
Dirinya kemudian membandingkan dengan kehidupan di lingkungan pedesaan. Jarang sekali ditemukan gerbang seperti demikian, bahkan tak jarang rumah-rumah dibangun tanpa dilengkapi gerbang. Hal ini mengisyaratkan keramahan masyarakat dan tingkat penerimaan sang pemilik rumah terhadap siapapun yang berkunjung. Pergaulan menjadi sangat cair, dan lahirlah semangat kebersamaan yang tercermin di berbagai aktivitas pedesaan. "Justru kalau di desa, semakin banyak orang berkunjung, maka bisa menjadi pertanda bahwa sang pemilik rumah sangat diterima oleh masyarakat sekitarnya, misalnya karena ramah," ungkapnya.
Namun, diakuinya makna gerbang rumah tidak hanya terbatas pada hal itu saja. Gerbang rumah juga bisa menjadi simbol ekspresi seni dan ide sang pemiliknya. "Ada kecenderungan budaya kita selalu meniru budaya tinggi, semisal kraton, gerbang yang sedemikian megahnya pun bisa saja merupakan ekspresi peniruan itu," pungkasnya.