Batik Sebaya Dihasilkan dari Batang Pepaya
Banyak tawaran pinjaman modal ditolak, takut nanti malahan tidak dapat mengembalikan pinjaman
Tayang:
Laporan Reporter Tribun Jogja, Edi Cahyono
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pohon-pohon Pepaya yang bertumbangan saat terjadi gempa yang mengguncang Yogyakarta 2005 silam, menimbulkan ide bagi Heru Wahyu (48) dan kedua temannya, Ahmad Ghozali dan Lilik untuk membuat sebuah terobosan dalam pembuatan batik. Batang pepaya yang membusuk dijadikan mereka sebagai bahan pembuatan cap untuk batik.
"Banyak pohon pepaya yang tumbang setelah terjadi gempa. Pekarangan punya Ghozali yang ditanami Pepaya habis semuanya. Waktu kami sedang nongkrong bareng, sempat timbul ide menggunakan batang pepaya untuk produk kerajinan. Awalnya kami mencoba membuat kap lampu, namun kurang meyakinkan dan hasilnya kurang bagus. Lalu timbul ide membuat untuk ngecap batik," jelas Heri, saat ditemui di rumahnya, Prawirotaman, Jumat (11/2/2011).
Heri yang juga pengelola hotel Mercury ini menambahkan, batang pepaya yang sudah lama membusuk terlihat seratnya. Lalu dari serat itu, mereka bertiga membuat cap batik dari serat pepaya.
"Serat batang sengaja dibiarkan membusuk, kemudian kami proses menggunakan air keras, kemudian kami ukir dan pahat motif diatas cap itu," katanya.
Sejak saat itu, menurut Heri, temannya Ahmad Ghozali, sengaja mengumpulkan dan berburu batang pepaya busuk, bahkan sampai ke pelosok desa. "Pohon-pohon pepaya yang sudah tumbang diangkut menggunakan pick up dan dibawanya pulang," imbuh Heri.
Pembuatan cap batik berbahan serat batang pepaya, membutuhkan waktu sampai seminggu. Setiap cap yang dibuatnya memiliki kombinasi dan motif yang berbeda-beda. Tingkat kesulitannya pun hampir serupa di antara motif batik yang digunakannya. "Butuh pengeringan cukup lama, tergantung terik panas matahari," ujar Heri.
Keunggulan batik cap milik Heri dan kawan-kawan, mempunyai keunikan dalam hal desain coraknya. Motif yang dipilih lain dari biasanya. Corak berbentuk bunga atau daun dimodifikasi sedemikian rupa, seolah-olah motif yang rumit.
"Kebanyakan yang mendesain motif dari Lilik. Lilik kawan saya ini juga merupakan dosen lepas seni rupa di ISI Yogya," jelas Heri, sambil membuka dan menunjukkan beberapa contoh gambar di katalog motif batik miliknya.
Batik Sebaya ini masih diproduksi skala rumah tangga. Mereka hanya menerima pesanan partai kecil saja. "Kami melakukan produksi di ruangan yang cukup sempit yang berada di rumahnya Ghozali, di Desa Karangkajen, Kecamatan Mergangsan," kata Heri.
Batik Sebaya produksinya belum memakai karyawan. Semuanya dikerjakan sendiri oleh ketiga orang itu. Termasuk manajemen dan pemasaran batik sebaya. "Semuanya kami kerjakan bertiga sampai saat ini, namun spesialisasinya ada juga, saya sendiri lebih ke pemasaran, Ghozali di catnya dan Lilik di desainnya," ujar Heri sambil tersenyum simpul.
Menjadi perajin batik merupakan pekerjaan sampingan ketiga orang itu. Pekerjaan utama dari ketiga orang itu, Heri sebagai pengelola hotel Mercury, Ghozali adalah penyedia jasa angkutan, sedangkan Lilik berprofesi sebagai tenaga honorer di Institut Seni Indonesia (ISI).
Pengerjaan batik mereka lakukan bila waktu luang. Selama ini, proses pengerjaan tidak secara sekaligus bisa bersamaan. Proses pengecatan dan penjemuran tidak bisa bersamaan waktunya. Biasanya dikumpulkan dulu, baru bila salah satu dari mereka bisa mengerjakan pengecapan, dapat diselesaikan. Ketiga orang itu mengerjakan batiknya mulai pukul 09.00-16.00.
"Semisal kita nggak ada acara, bisa kami kerjakan sampai tengah malam, itupun secara bergantian. Kadang-kadang saja kami bisa bareng, pokoknya sesempatnya, tapi setiap hari pasti ada," tegas Heri.
Kapasitas produksi batik sebaya per hari mencapai empat potong. Bila memungkinkan bisa lebih, tergantung banyaknya pesanan. Secara kontinyu jumlah yang mampu mereka hasilkan sebanyak empat potong. Pemasarannya batik sebaya ini meliputi, Semarang, Palembang, Solo, dan Bali.
"Pembeli langsung datang ke tempat produksi, mereka mendengar adanya batik ini baru dari mulut ke mulut, kami belum berani promosi besar-besaran, takut kewalahan memenuhi order," urainya.
Pemesan batik sebaya, biasanya digunakan untuk seragam kantor, termasuk seragam pegawai negeri maupun bank. "Pelanggan kami biasanya membeli kain batik sebaya sebanyak 25 potong, satu potong berukuran 2,5 meter," papar Heri.
Usaha batik ini merupakan usaha gotong royong mereka yaitu Heri, Ghozali, dan Lilik. Ketiga orang yang terlibat di dalamnya, merupakan teman dekat. Usaha ini dimulai tahun 2009. "Modal awal kami bukan mengumpulkan uang dulu, tapi satu per satu punyanya apa untuk membuat batik," ujarnya.
Sampai sekarang mereka belum memikirkan untuk mengembangkan usahanya. Menurut Heri, banyak tawaran pinjaman modal, namun ditolaknya. "Bayar bunganya entar susah, sekadar jalan dulu saja. Untuk ke depannya kami belum berani terlalu jauh," ujar Heri.
Heri mengeluhkan kenaikan harga malam dan bahan tekstil hampir dua kali lipat yang terjadi baru-baru ini. Harga malam kualitas nomor satu, semula Rp 20 ribu, kini naik menjadi Rp 30 ribu. Sedangkan kain bahan baku, bila semula per potongnya (34 meter) dijual Rp 360 ribu, kini melonjak hingga Rp 600 ribu per ptongnya. "Sebelum kenaikan, satu potong batik sebaya berukuran dua meter harganya Rp 125 ribu. Karena kenaikan bahan baku, terpaksa untuk hasil produksi selanjutnya harganya lebih mahal," katanya dengan datar.
Ada kebanggaan tersendiri bagi Heri dan teman-temannya berkat batik sebaya Lindu Sakti. Salahsatunya saat mereka diundang pameran di Jogja Expo Center (JEC) oleh Disperindag bulan Oktober tahun lalu. Heri berkesempatan memberikan hadiah cinderamata kepada Sri Sultan HB X yang membuka acara tersebut.
Cinderamata yang diberikan Heri berupa kain batik Sebaya berbahan sutera kepada orang nomor satu di Provinsi DIY itu. "Motifnya kami buat secara khusus mempunyai kombinasi yang rumit. Bahkan proses pengecapan dan bahan catnya khusus juga, pokoknya limited editionlah," cetus Heri.
Cap yang digunakan untuk batik itu masih disimpan sampai sekarang. Ia tidak akan memakainya dalam waktu dekat. Baru empat tahun kemudian motif cap itu dikeluarkan untuk pasaran.
Kain batik berbahan sutra itu, berukuran 2,5 meter. Uang yang harus dirogoh dari kocek mereka bertiga Rp 600 ribu, hanya untuk bahan suteranya saja. Kalaupun dijual harganya bisa mencapai jutaan rupiah. "Kami buat khusus untuk Ngarso Dalem. Bukan berapa uang yang harus dikeluarkan, tapi sebuah bentuk pengabdian dan wujud terima kasih kami," jelasnya.

.jpg)