Minimalkan Risiko Kecelakaan Kereta Api
Gerbong Depan dan Belakang Dikosongkan
Kebijakan PT KAI untuk mengosongkan gerbong paling depan dan paling belakang dalam setiap rangkaian kereta api tidak banyak diketahui.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Kebijakan PT KAI untuk mengosongkan gerbong paling depan dan paling belakang dalam setiap rangkaian kereta api tidak banyak diketahui.
Anwar Santoso (43) penumpang yang sedang duduk di peron Stasiun Lempuyangan mengaku tidak tahu kehijakan tersebut.
Kebijakan itu diterapkan PT KAI dengan maksud untuk mengurangi risiko fatal akibat kecelakaan kereta api.
"Saya tidak tahu ada kebijakan itu, yang penting anggota keluarga saya dapat tempat duduk," tutur pria yang akan kembali ke Jakarta bersama 15 anggota keluarga dengan KA Ekonomi Progo pukul 16.45 WIB.
Kereta Api Progo terdiri dari 13 rangkaian. Rangkaian pertama ialah lokomotif, disusul gerbong barang, lalu 11 gerbong penumpang. Gerbong penumpang pertama dan paling belakang tampak tidak dinaiki penumpang. Gerbong yang dikosongkan tersebut dikunci dari luar dengan cara mengunci pintunya dengan kawat.
"Kalau ini memang alasannya demi keselamatan, terkesan kereta ini akan bertabrakan. Lebih baik turun saja, daripada was-was," tegas pria yang berprofesi sebagai PNS tersebut dengan suara tinggi.
Bambang Wiratno (40) memiliki pandangan berbeda terhadap pengosongan dua gerbong dalam sebuah rangkaian. Dia menilai pengosongan itu dimaksudkan untuk menyediakan tempat kosong bagi penumpang di stasiun berikutnya.
"Mungkin untuk penumpang yang sudah menunggu di stasiun berikutnya. Tapi baru kali ini saya melihatnya, biasanya tidak ada," kata pria yang mengaku sering melakukan perjalanan Yogya-Jakarta ini.
Sumardi, petugas keamanan kereta api menjelaskan bahwa pengosongan tersebut dilakukan untuk keamanan penumpang. "Mengantisipasi kejadian seperti di Statiun Langensari, Banjar. Kerusakan paling parah pada waktu itu ialah gerbong penumpang terdepan dan terakhir," kata Sumardi. (*)