Dua Kali Seminggu Merantau ke Yogya untuk Sekolah Modelling
Widyanarto menceritakan, muridnya ada yang berasal dari Magelang, Wonogiri, Jawa Tengah hingga Madiun, Jawa Timur.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tingginya minat orang untuk mempelajari teknik modelling membuat jarak tidak lagi berarti.
Widyanarto, pemilik Danar Studio Modelling menceritakan, murid-muridnya ada yang berasal dari luar Kota Yogyakarta, misalnya Magelang, Wonogiri, Jawa Tengah hingga Madiun, Jawa Timur.
"Mereka ini berangkat dari rumah masing-masing ke Yogya dua kali seminggu. Padahal di Solo dan Magelang kan juga ada (sekolah model)," ujar Danar, panggilan akrab Widyanarto, di studio modelling miliknya, di Jalan HOS Cokroaminoto, Ngadimulyo 186 Pakuncen, Wirobrajan, Yogyakarta, Rabu (18/1/2011).
Sekolah model yang 50 persen dari 40 muridnya berasal dari siswi SMP dan SMA ini mematok biaya pendaftaran sebesar Rp 25 ribu, dan biaya sekolah Rp 500 ribu per dua bulan. Sedangkan masa pelatihan dalam kelas selama empat bulan.
"Setelah itu tinggal masa pengembangan yang berlangsung hingga satu tahun, lantas mereka diwisuda," kata Danar.
Materinya juga beragam. Mulai dari pengetahuan tentang dunia modelling secara umum, cara berjalan, gestur tubuh, cara berpakaian, hingga cara menatap dan bicara pada orang lain.
Danar mengatakan bahwa banyaknya peserta yang berasal dari kalangan siswi SMP dan SMA di sekolah modelnya, rata-rata bertujuan untuk aktualisasi diri. Satu di antaranya agar mereka terlihat luwes bergaul, dan menonjol di antara kawan-kawan seumuran mereka.
"Beda dengan siswa SMK yang cenderung menggunakan teknik modelling untuk melamar kerja. Kalau anak SMA biasanya biar terlihat gaul, dan membangun kemandirian mental," ujarnya.
Sekolah model milik Danar, bukan sekadar untuk mereka yang ingin jadi model profesional. Melainkan juga sebagai medium pembentuk karakter dan kemandirian mental, terutama bagi para remaja putri.
"Saya ingin membuktikan bahwa modelling itu bisa dipelajari siapa saja, dan untuk menyiapkan orang dari sisi penampilan. Zaman sekarang kan orang pintar banyak, tapi lupa bahwa penampilan itu juga penting," terang Danar panjang.
Staf Modelling Lembaga Pendidikan Kejuruan Poros Pendidikan Mode Jogjakarta (LPK PAPMI), Yoyon AT, mengatakan, remaja yang ikut sekolah model dilatih berani tampil di muka umum.
Sekolah model pada tahap awal akan mengatasi rasa malu maupun rasa grogi yang biasa dimiliki remaja ketika tampil di depan publik. Apabila mentalnya sudah terbentuk, baru akan diarahkan menjadi peragawati.
“Menjadi peragawati memiliki kemampuan komplit. Bisa memeragakan pakaian, juga layak jadi foto model. Berbeda dengan foto model, yang belum tentu bisa menjadi peragawati," ujarnya.
Dilla Fadiel (17), mengatakan, sudah menekuni dunia peragawati dan modelling sejak di kelas 2 SMP. Sempat pindah ke berbagai agency, dan akhirnya peraih 25 Besar Miss Celebrity Jogja ini berlabuh di bawah naungan YAM Models. “Sejak masih kanak-kanak, saya sudah suka modelling,” kata pemenang Juara I Putri Citra 2009 itu.
Sepak terjangnya di dunia modelling, memberikan banyak pengalaman. Mulai dari dimusuhi teman-temannya karena profesinya, hingga pengalaman menang di berbagai acara lomba model. Perempuan berdarah Bandung dan Riau ini juga punya pengalaman akting, yakni pernah bermain di sinetron berjudul Ekspedisi Merah dan Pengakuan Terlarang.