Sleman

Pengelolaan Sampah di Sleman Belum Maksimal

Penambahan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) yang menjadi program unggulan belum maksimal dilakukan di wilayah perkotaan.

Pengelolaan Sampah di Sleman Belum Maksimal
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Sleman 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Permasalahan sampah di Sleman hingga kini belum bisa teratasi secara tuntas.

Penambahan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) yang menjadi program unggulan belum maksimal dilakukan di wilayah perkotaan.

Pasalnya masyarakat di wilayah kota urung mengolah sampah secara mandiri.

"Untuk masyarakat desa mayoritas sudah bisa, namun yang jadi masalah di perkotaan, masyarakat belum bisa mengolah sampah secara mandiri," ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman Dwi Anta Sudibya, Minggu (13/1/2019).

Sudibya menjelaskan sejauh ini komposisi penyumbang sampah terbesar di Sleman antara masyarakat desa dan kota seimbang yakni 50:50.

Sedangkan volume sampah sehari bisa mencapai 600 kubik.

Baca: TPAS Wukirsari Wonosari Diperkirakan Hanya Mampu Tampung Sampah Hingga 2024 Mendatang

Lebih lanjut, Sudibya menjelaskan sebagian masyarakat kota telah berlangganan truk pengangkut sampah.

Namun, masih ada yang enggan berlangganan dan memilih untuk membuang sampahnya sembarangan.

Adapun jenis sampah di Sleman rata-rata merupakan sampah rumah tangga, yaitu berupa sampah kemasan makanan, sisa makanan, dan ada juga popok bayi.

"Sekitar 48 persen sampah di perkotaan sudah mampu kami tangani. Lalu yang membuang sampah sembarangan ini adalah mereka yang tidak mau membayar iuran truk pengangkut sampah," bebernya.

Baca: Bersihkan Sampah Perayaan Tahun Baru, Dinas Lingkungan Hidup Terjunkan 300 Personel

Terkait pengelolaan sampah, hal itu bisa dicontoh dari Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Brama Muda di Sardonoharjo Ngaglik Sleman.

Sejak setahun berdiri, Brama Muda telah memiliki memiliki 318 pelanggan yang berasal dari kalangan rumah tangga, kantor, hingga restoran.

"Dalam jangka waktu satu tahun, ini kami sudah memiliki 318 pelanggan. Dari 318 pelanggan tersebut kita kita menghasilkan timbunan sampah perhari rata-rata 680an kilogram per hari," terang Wakil Ketua KSM Brama Muda, Sutarjo.

Sutarjo juga menjelaskan dari sampah-sampah yang dipilah sesuai jenisnya seperti organik maupun anorganik, pihaknya dapat menghasilkan rata-rata 500kg kompos setiap bulannya dengan harga jual Rp 1000 rupiah perkilonya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: nto
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved