Yogyakarta

Sering Dianggap Remeh, Begini Risiko Tinggi Pekerjaan Petugas Palang Pintu Kereta Api

Selain bergantung dengan alat-alat, seperti HT dan telepon, ia juga harus paham jenis kereta dan jadwal keberangkatan kereta.

Sering Dianggap Remeh, Begini Risiko Tinggi Pekerjaan Petugas Palang Pintu Kereta Api
TRIBUNJOGJA.COM / Christi Mahatma
Khusnul Arifin (32) sudah 7 tahun menjadi petugas palang pintu kereta di gardu Timoho. Meski dianggap pekerjaan sederhana, namun kelalaian sedikit saja dapat membuat nyawa banyak orang melayang, Senin (8/10/2018). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA- Tidak ada pekerjaan yang benar-benar mudah.

Masing-masing memiliki tanggungjawab dan risikonya.

Baca: Rencana Pengaktifan Ulang Jalur Kereta Api di Jawa Tengah Jalan Terus, Ini Kata Ganjar Pranowo

Pekerjaan yang dilakoni Khusnul Arifin terdengar sederhana, mudah, dan tidak memerlukan keahlian khusus.

Yang jelas, ia tidak boleh buta warna dan memiliki gangguan lain pada matanya.

Tugas Khusnul hanya mendengarkan handy talky (HT) sepanjang hari.

Pria 32 tahun itu juga hanya melihat jendela dan spion besar di sebelah kanannya.

Hampir 10 menit sekali ia juga memencet tombol reset berwarna merah pada sebuah kotak alarm bertuliskan Deadman Alarm and Announcer.

Ada enam titik lampu indikator yang menyala pada kotak alarm tersebut.

Tiga lampu teraras berwarna kuning, semakin bawah berubah menjadi oranye, dan paling bawah berwarna merah.

Halaman
1234
Penulis: Christi Mahatma Wardhani
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help