Mengungkap Watak Gunung Merapi dan Upaya Menjinakkan Bahayanya

Mengapa dan benarkah terjadi perubahan watak Merapi. Lalu bagaimana implikasi terhadap bahaya Gunung Merapi ke depan?

Mengungkap Watak Gunung Merapi dan Upaya Menjinakkan Bahayanya
Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo
Foto Gunung Merapi (2.930 mdpl) diabadikan dari Gardu Pandang Tunggularum dan Dusun Gondoarum, Desa Wonokerto, Kec Turi, Sleman, Jumat (1/6/2018) siang dan sore sesudah letusan. 

Mengungkap Watak Gunung Merapi dan Upaya Menjinakkan Bahayanya 

Oleh: SUBANDRIYO,
Penyelidik Bumi Madya
Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral

PADA 11 Mei 2018 pukul 08.20 WIB, Gunung Merapi tiba-tiba erupsi tanpa ada peringatan dini. Sangat mengejutkan karena saat itu aktivitasnya dalam tingkat normal.

Akibatnya sebagian masyarakat lereng Merapi panik, hingga terjadi pengungsian spontan. Rupanya masyarakat masih trauma dengan erupsi tahun 2010 yang memakan korban 398 jiwa.

Setelah dilakukan evaluasi, lembaga yang berwenang yaitu Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), menaikkan tingkat aktivitasnya dari Normal (level I) menjadi Waspada (level II) pada tanggal 21 Mei 2018.

Selang  tiga bulan, pada 12 Agustus 2018 BPPTKG berhasil mendeteksi munculnya kubah lava baru melalui pemotretan udara menggunakan pesawat nirawak atau UAV (Unmanned Aerial Vehicle).

Munculnya kubah lava baru menandai erupsi Merapi sudah memasuki fase magmatis.

BPPTKG Yogyakarta Sebut Merapi Saat Ini Memasuki Siklus Baru

Banyak pertanyaan di masyarakat terkait dengan erupsi Gunung Merapi saat ini.

Mengapa jenis letusannya berubah dan benarkah terjadi perubahan watak Merapi. Lalu bagaimana implikasi terhadap bahaya Gunung Merapi ke depan?

Betulkah watak Merapi berubah? Erupsi Gunung Merapi yang sudah dikenal, biasanya diawali munculnya kubah lava yang tumbuh sampai volume tertentu hingga kestabilannya terganggu kemudian longsor menimbulkan awan panas.

Erupsi semacam ini telah terjadi ratusan kali sehingga para ahli menyebut sebagai tipe Merapi. Erupsi Merapi 2010 telah merubah persepsi publik tentang watak gunung ini.

Gejala awal sebelum erupsi yang sangat  kuat, baik seismic, deformasi maupun gas vulkanik, tetapi kubah lava tidak muncul sebagaimana terjadi pada erupsi-erupsi sebelumnya.

Fenomena Kubah Lava Gunung Merapi dan Dampak yang Ditimbulkan

Kemudian terjadi letusan eksplosif pertama 26 Oktober 2010 yang memakan korban 35 jiwa, termasuk almarhum Mbah Marijan. Setelah itu terjadi letusan beruntun hingga puncaknya terjadi pada 5 Nopember 2010.

Pasca erupsi 2010, terjadi paling tidak enam kali erupsi minor (nonmagmatis), tanpa didahului gejala awal yang jelas. Pola erupsi seperti ini tidak dijumpai dalam sejarah modern pengamatan Gunung Merapi, sehingga mengubah persepsi publik watak Merapi berubah.

Bila kita pelajari lebih jauh mengenai sejarah erupsi Merapi, erupsi besar mirip 2010 pernah terjadi pada tahun 1872.

Kemiripannya meliputi magnitude, gejala awal maupun aktivitas pasca erupsinya. Pasca erupsi 1872 juga terjadi beberapa kali erupsi minor (Voight, 2000), sebelum terjadi erupsi magmatis 1883.

Ini Dia Penampakan Kubah Lava Baru di Kawah Gunung Merapi

Kedua erupsi besar tersebut disebabkan magma yang kaya gas vulkanik. Berdasarkan catatan sejarah erupsinya, sebetulnya watak Merapi tidak bersifat tunggal, tetapi mempunyai varian erupsi yang beragam seperti erupsi freatik, vulkanian, pembentukan kubah lava, Sub-Plinian dsb.

Dalam era Merapi Muda (> 2000 th yll) pernah terjadi erupsi besar, sector collaps, mirip erupsi Mount StHelens, USA, 1980, dengan menimbulkan awan panas mencapai 25 km dari puncak, dan meninggalkan bekas kawah Pasar Bubar saat ini.

Faktor yang mempengaruhi jenis dan besarnya erupsi

Ada tiga hal yang mempengaruhi besarnya erupsi gunungapi. Pertama, diferensiasi magma dari basa ke asam, kandungan silica (SiO2) dari rendah ke tinggi (>60%).

Magma dengan kandungan silica tinggi cenderung eksplosif. Kedua, laju pertumbuhan kubah lava. Erupsi dengan laju pertumbuhan kubah lava cepat dan volumenya besar, akan memicu terjadi awan panas yang besar.

Menelusuri Jejak Kedahsyatan Erupsi Merapi di Museum Sisa Hartaku

Ketiga, kandungan gas di dalam magma. Jika kandungan gas tinggi, akan cenderung  eksplosif. 

Diferensiasi magma tidak terjadi di Merapi, karena kandungan silica sejak dulu berkisar 52-56 %.

Faktor yang menentukan jenis dan besarnya erupsi adalah laju pertumbuhan kubah lava dan kandungan gas vulkanik. Erupsi tahun 1930/1931yang cukup besar disebabkan oleh pertumbuhan kubah lava yang cepat dan juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

Sementara erupsi besar 1872 dan 2010, disebabkan kandungan gas yang sangat tinggi, di samping laju pertumbuhan kubah menjelang puncak erupsi yang sangat cepat mencapai 35 ribu M3 per detik (Pallister, 2010).

Gejala awal erupsi saat ini

Berdasarkan data monitoring sebelum erupsi, baik kegempaan, deformasi dan geokimia menunjukkan tidak ada peningkatan yang signifikan.

Dari kegempaan, gempa VT (Volcano Techtonic) < 1 kali/hari, sedangkan gempa frekuensi rendah maupun tremor yang berasosiasi dengan gerakan fluida tidak nampak.

Pengukuran deformasi, tidak ada penggelembungan tubuh gunung, artinya tekanan lemah. Sementara pengukuran emisi gas SO2 ada peningkatan hingga 200-300 ton/hr pada saat erupsi saja, sedangkan dalam kondisi normal emisi gas SO2 rata-rata < 100 ton/hari.

Mengapa demikian? Secara visual, erupsi 11 Mei dan 21 Mei 2018 nampak besar, karena tinggi kolom letusannya mencapai 5,5 km dan 7 km dari puncak.

Menjelang erupsi, ada getaran yang terasa hingga 10 km dari puncak Merapi, sehingga kesan masyarakat letusannya besar. Benarkah demikian?

Yang menjadi ukuran besarnya suatu erupsi adalah volume material yang dikeluarkan selama erupsi yang dinyatakan dalam skala VEI (Volcano Explosivity Index).

Setelah dipetakan, erupsi 11 Mei dan 21 Mei 2018 masing-masing menghasilkan material piroklastik sebesar 30.000 M3 dan 40.000 M3. Artinya ukuran besar erupsinya dalam skala VEI 1, di mana volume material yang dikeluarkan antara 10 ribu – 1 juta M3.

Bandingkan dengan erupsi 2010 dengan VEI 4, produk material yang dikeluarkan mencapai > 100 juta M3. 
Erupsi dengan skala VEI 1 hanya mengakibatkan deformasi < 3 mm di puncak.

Sementara jaringan monitoring Merapi saat ini baru mampu mengukur hingga ketelitian 10 mm, sehingga perubahan 3 mm tidak terdeteksi.

Deformasi sebesar itu hanya bisa ditimbulkan oleh erupsi skala VEI 2 atau lebih, dengan mengeluarkan volume material > 1 juta M3. Itulah mengapa beberapa kali erupsi minor pasca erupsi 2010 tidak terdeteksi gejala awalnya.

Kejadian erupsi seperti ini bukan hal yang aneh. Banyak contoh erupsi minor/freatik di gunungapi lain di dunia yang tidak terdeteksi gejala awalnya sehingga tidak ada peringatan dini.

Contoh aktual di Gunung Ontake, Jepang yang meletus pada 27 September 2014 hingga menimbulkan korban 30 orang meninggal. 

Proses erupsi yang terjadi di Gunung Merapi saat ini

Untuk menjelaskan proses erupsi perlu mengetahui sistem saluran pipa magma (plumbing system) Merapi dan bagaimana migrasi fluida magma ke permukaan.

Berdasarkan hiposenter gempa vulkanik Merapi, ditemukan zona aseismik pada kedalaman sekitar 1 km dari puncak, yang memisahkan lokasi gempa vulkanik dalam dan vulkanik dangkal, diinterpretasikan sebagai kontong magma dangkal.

Sementara dapur magma diperkirakan pada kedalaman > 5 km dari puncak.

Perlu diketahui, migrasi magma ke permukaan dikontrol kandungan unsur volatile (yang mudah menguap) dalam magma yang didominasi oleh H2O, CO2 dan SO2.

Pada awal bergerak naik dari dapur magma, magma dalam kondisi tidak jenuh unsur volatile. Selama magma bergerak naik, akan mencapai batas kejenuhan, sedemikian sehingga kandungan unsur volatile awal sama dengan batas kelarutan.

Ketika tekanan menurun, magma menjadi superjenuh, mengakibatkan unsur volatile terpisah dari larutan, kemudian membentuk gelembung-gelembung gas (bubbles).

Ketika mencapai kantong dangkal, gelembung gas terakumulasi kemudian terjadi turbulensi yang menggerus dinding batuan yang melingkupinya.

Turbulensi inilah yang menyebabkan getaran terasa hingga 10 km jauhnya. Setelah terjadi overpressure, tekanan gas melampaui kekuatan material penyumbatnya, sehingga terjadi erupsi eksplosif.

Produk material erupsinya masih dominan material lithic (lama), bukan juvenile (baru).

Berdasarkan hasil analisa produk erupsi menggunakan SEM (Scanning Electron Microscope) di BPPTKG, produk erupsi 11 Mei didominasi material lama (lithic) dan kristal teralterasi, sedangkan produk erupsi 21 Mei 2018 didominasi kristal plagioklas sebagai indikasi material juvenile (magma baru).

Hasil inilah merupakan indikasi awal akan terjadi erupsi magmatis.

Dengan munculnya kubah lava baru pada 12 Agustus 2018, terbukti, rentetan erupsi minor akan diikuti erupsi magmatis. Migrasi magma ke permukaan memang berjalan lambat, karena miskin gas.

Erupsi magmatis 2018 bisa dimaknai Gunung Merapi memasuki siklus aktivitas baru dan kemungkinan erupsinya akan kembali ke watak semula yang dicirikan kubah lava dan awan panas guguran.

Namun demikian pertumbuhan kubah saat ini rendah, rata-rata 5.000 m3/hari, di mana normalnya mencapai 20.000 m3/hari.

Ada dua kemungkinan erupsi yang akan terjadi, yaitu pertama terbentuk kubah lava kemudian erupsi berhenti. Kedua pertumbuhan kubah lava berlanjut hingga mencapai volume kritis, kemudian longsor membentuk awan panas guguran. 

Bagaimana implikasi ancaman ke depan dan mitigasinya?

Ada dua implikasi ancaman ke depan yaitu ancaman jangka pendek dan jangka panjang.

Ancaman jangka pendek apabila kemungkinan kedua terjadi yaitu kubah lava tumbuh hingga mencapai volume kritis, kemudian longsor membentuk awan panas.

Mengingat bukaan kawah ke arah tenggara, kemungkinan besar awan panas masih akan mengarah ke sektor Kali Gendol.

Oleh sebab itu Desa Kinahrejo, Desa Glagaharjo. Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman serta bila terjadi penyimpangan awan panas, Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten merupakan wilayah yang paling rentan.

Langkah-langkah mitigasi yang perlu dilakukan untuk antisipasi ancaman jangka pendek yaitu pertama, sosialisasi kepada warga di wilayah yang paling rentan untuk menjelaskan kondisi terkini Gunung Merapi dan simulasi peringatan dini.

Kedua, memperbaiki rencana kontijensi berdasarkan skenario yang lebih realistik. Ketiga, memperkuat system informasi dan komunikasi untuk mengantisipasi hoax dan berita palsu mengenai aktivitas Gunung Merapi.

Apabila erupsi Gunung Merapi kembali ke watak semula, artinya dalam beberapa dekade ke depan akan terjadi erupsi rata-rata statistic 4 tahun sekali, dominan ke arah sektor tenggara-selatan meliputi K. Gendol (yang utama), K. Boyong dan K. Woro.

Mitigasi jangka panjang yang harus dilakukan adalah menyusun/menegakkan peraturan daerah terkait dengan tata ruang wilayah berbasis mitigasi bencana sebagaimana diamanatkan oleh UU No 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana dan UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang.

Pascabencana erupsi 2010, telah terbit Perpres No. 70/2013 tentang Kawasan Strategis Nasional Taman Nasional G. Merapi yang mengatur pola dan struktur ruang berbasis Peta Kawasan Rawan Bencana G. Merapi.

Peraturan dan kebijakan yang sudah ada memang tidak sempurna, tetapi sudah cukup memadai untuk upaya pengurangan risiko bencana Gunung Merapi di masa mendatang.(*) 

Penulis: xna
Editor: mon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved