Bantul

Faktor Cuaca, Penyebab Harga Ayam Potong di Bantul Melambung Tinggi?

Faktor Cuaca Menjadi Penyebab Harga Ayam Potong di Bantul Melambung Tinggi?

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/ Ahmad Syarifudin
Pengelola kandang ternak ayam di Gowasari, Adnan, sedang membersihkan kandang ayam, Selasa (17/7/2018) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ahmad Syarifudin

TRIBUNJOGJA.COM - Pengelola kandang ternak ayam di Gowasari, Pajangan, Bantul, Adnan, menilai meroketnya harga daging ayam di pasaran selama sebulan terakhir ini disebabkan oleh faktor cuaca.

Selama sebulan terakhir, cuaca di Bantul cukup ekstrim, suhu udara sangat dingin.

Akibatnya ada banyak ayam dari peternak yang mudah terserang penyakit dan akhirnya mati sebelum panen.

"Kalau siang panas, sementara malam dingin banget, sehingga tidak baik bagi kesehatan ayam. Mudah terserang penyakit. Apalagi ini juga masuk musim kemarau, volume air di sumur berkurang dan biasanya ada endapan di atas air, pencemaran dari bakteri E.coli. Saat diminum, ayam banyak yang mati," ujar Adnan, saat ditemui tengah membersihkan kandang ayam, Senin (17/7/2018)

Adnan sendiri sudah menjadi pengelola kandang ternak ayam selama 15 tahun. Ia mengaku tahu persis kondisi ayam saat musim kemarau.

Baca: Harga Daging Ayam Meroket, Masyarakat Siasati Menu Makan Keluarga

Ia menuturkan, musim kemarau seperti saat ini biasanya akan berlangsung dari bulan Juni - September. Selama bulan itu pula pasokan DOC (bibit ayam) dari pihak kemitraan menjadi sulit.

"Bulan Juni - September musim kemarau. Kamarin, dapat info dari kemitraan katanya DOC (bibit ayam) sampai Januari ini masih sulit," ungkapnya.

Adnan sendiri mengelola kandang ternak ayam dari bibit yang diperoleh dari perusahaan mitra.

Ia hanya bertugas merawat ayam. Mulai dari persiapan kandang, bibit ayam disebar hingga tumbuh dewasa dan siap panen.

"Bukan langka, tetapi dari sananya produsen pembibitan dibatasi, kuotanya dikurangi," terang dia.
.
Lebih lanjut, lelaki yang biasa disapa Demung ini mengungkapkan, sulitnya bibit ayam (DOC) dari kemitraan akan berimbas pada tertundanya periode beternak.

"Kandang ini panen dua minggu yang lalu. Seharusnya, setelah dibersihkan, ini sudah mulai di taruh DOC (anak ayam) lagi, tetapi sampai sekarang belum ada," ujar dia.

Kandang yang dikelola oleh Demung di Desa Gowasari ini berkapasitas 6000 ekor ayam.

Alhasil, kandang yang seharusnya sudah siap, saat ini masih dibiarkan kosong. "Sampai kapan, saya belum tahu," ucap Demung. (tribunjogja)

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved