Mangut Beong, Ikan Asli Sungai Progo yang Nyaris Punah

Ikan berhabitat asli di sungai Progo itu lama kelamaan habis karena banyak ditangkap untuk ikan konsumsi

Mangut Beong, Ikan Asli Sungai Progo yang Nyaris Punah
Tribun Jogja/Agung Ismiyanto
Kepala UPT Balai Benih Ikan (BBI) Kecamatan Sawangan, Fidil Rahmat menunjukkan ikan beong berukuran besar yang ditangkarkan di kolam BBI Sawangan, Rabu (25/2). Fidil dan lima staffnya berusaha melestarikan populasi beong di sungai Progo yang terancam punah. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Menurunnya populasi ikan beong, menjadi sebuah persoalan dari masyarakat, pecinta beong, hingga pemerintahan di Kabupaten Magelang. Ikan berhabitat asli di sungai Progo itu lama kelamaan habis karena banyak ditangkap untuk ikan konsumsi. Namun, pembibitan dan juga pembenihan ikan yang hidup liar ini jarang dilakukan.

Fidil Rahmat merasa prihatin dengan terus berkurangnya populasi ikan yang memiliki nama latin mystus nemurus ini sejak akhir tahun 2000an. Ikan ini meski hidup liar di sungai-sungai di beberapa wilayah Indonesia, telah menjadi salah satu ikon Magelang. Hal itu identik dengan masakan sederhana nan nikmat berjuluk mangut beong Kabupaten Magelang.

Menurunnya populasi ikan berwarna hitam dengan tiga patil (senjata) di tubuhnya itu menyisakan persoalan. Sejumlah warung makan kuliner khas Magelang yang menyedot perhatian wisatawan daerah lain sampai kesulitan memenuhi permintaan ikan ini.

“Padahal, mangut beong harus tetap menjadi ikon kuliner Kabupaten Magelang. Soalnya tidak ada di daerah lain,” ucap Fidil saat ditemui di kantor Balai Benih ikan (BBI), Kecamatan Sawangan, Rabu (25/2/2015) lalu.

Persoalan berkurangnya dan terancam punahnya populasi ikan bersifat predator ini bahkan menjadi pembahasan hingga tingkat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang. Fidil kemudian bersama lima orang lainnya dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) BBI Kecamatan Sawangan lalu membuat terobosan.

Fidil yang merupakan Kepala UPT BBI Sawangan dan kawan-kawannya kemudian mencoba mengeksplorasi dan melakukan eksperimen untuk mengembang biakkan ikan beong dengan cara menangkarkan di kolam pada akhir tahun 2013. Ide dan langkah mulia untuk melakukan konservasi sumber daya alam ini, awalnya tak mulus.

Fidil dan timnya harus menemui kendala dalam proses mengawinkan dua indukan beong yang dipinjamnya dari kantor UPT BBI Provinsi Jawa Tengah (Jateng) di Muntilan. Selama enam bulan, ikan ini belum menunjukkan tanda-tanda dapat berkembang biak secara maksimal.

“Mungkin, saat awal kami tangkarkan, beong ini masih dalam proses adaptasi lingkungan. Hampir setengah tahun, dua indukan yang akan kami kembangbiakkan baru mau kawin,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, setelah enam bulan, tepatnya di pertengahan tahun 2014, proses perkawinan dua indukan beong itu terjadi. Mereka bersorak. Namun, saat proses perkawinan dua induk beong ini juga memerlukan waktu dan proses amat panjang.

Halaman
12
Tags
Ikan
Penulis: ais
Editor: dik
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved