Catatan Dari Suku Anak Dalam

Belajar dari Rimba Makekal

Ketaatan terhadap adat di diri mereka pun masih sangat kuat, seperti mematuhi denda,

Tayang:
Penulis: rap | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNJOGJA.COM - Orang Rimba yang menjadi kader di Kelompok Makekal Bersatu (KMB) bukan berarti telah meninggalkan kehidupan mereka, dan meninggalkan sifat Rimba-nya, apalagi meninggalkan tanah mereka.

Mereka (Pengendum, Beconteng, Berapit, dan Mijak) masih mencari penghidupan di hutan dengan berburu, menyadap karet, dan menjual hasil tanaman mereka seperti, cabai, dan buah-buahan (Pedero, semacam kelengkeng).

“Mereka memang menerima pembaharuan dan pendidikan, tetapi merekalah yang menjadi filter atau penjaga batas konfrontasi hal-hal baru dari luar, yang kemungkinan akan diserap oleh adik-adik mereka dan kawan-kawan mereka. Ketaatan terhadap adat di diri mereka pun masih sangat kuat, seperti mematuhi denda, dan norma lainnya,” ungkap Iduy peserta Program Sekolah Remaja mencoba mengingat lagi.

Ketika tiba di dalam Rimba Makekal, banyak hal yang harus Iduy dan Zery pelajari, terutama adat, norma, pantangan dan kebiasaan mereka. Wanita Rimba sangat dilindungi, dijaga, dan dibentengi relasi sosialnya.

“Orang meru (orang luar Rimba), tidak boleh berinteraksi dengan betina (wanita) Rimba, memandangi saja tidak boleh, terutama jika ia betina perawan (masih gadis/ belum menikah),” ungkap pria yang menjadi Project Officer program Sekolah Remaja, Yayasan Kampung Halaman ini.

Untuk bujang Rimba sendiri atau lelaki Rimba, boleh berinteraksi , tetapi hanya pada betina yang sudah menikah, atau dengan betina yang masih kecil. Untuk betina perawan, bahkan bujang Rimba sekalipun tidak boleh saling berinteraksi.

Betina Rimba, lanjut Iduy, tidak boleh di dokumentasikan, atau difoto, dan ini berlaku untuk semua betina. Sungai juga sangat dijaga di Rimba, tidak boleh menggunakan zat apapun dari luar yang dapat mencemari atau dicampur dengan air sungai.

Sungai dan pohon-pohon besar bagi Orang Rimba adalah hadiah dari dewa-dewa mereka. Karena itulah mereka sangat menjaga sungai dan pohon di Rimba. Sungai dan pohon adalah sebagai penunjuk arah dan penaung mereka yang dihadiahkan dewa-dewa.

Menurutnya, banyak murid lulusan Sokola yang akhirnya kembali ke cara hidup Rimba, seperti Penguar, Penitibenang, Gentar, Bekilat, dan lainnya (murid generasi sebelumnya). Mereka sudah dibekali untuk mengajar anak-anak dengan posisi buta huruf yang sudah dikirim ke beberapa tempat Sokola seperti; Makassar, Halmahera, Bandung, dan Flores. Tetapi, ketika mereka menikah, mereka kembali menjalani cara hidup leluhur mereka.

Keberlangsungan hidup Orang Rimba sampai sekarang dengan hutan yang masih lestari adalah bukti bahwa mereka bisa dan sudah melakukan konservasi terhadap hutan Rimba mereka, walaupun dengan cara yang berbeda dan tradisional.  Menurut Iduy, apapun pandangan dari orang meru, kita perlu mengenal sendiri bagaimana Orang Rimba.

Bagaimanapun liarnya mereka terlihat, lanjutnya, perlu sedikit tinggal bersama mereka untuk tahu mereka liar atau tidak. Seperti apapun lusuh dan terbelakangnya Orang Rimba, berbagi dengan mereka cukup untuk mengetahui bahwa ada segelintir dari mereka yang peduli akan bekal pendidikan yang bermanfaat untuk adik-adik generasi penerus mereka.

Seorang Rimba berkata; ‘Tidak ada Orang Rimba yang tidak jahat…Tidak pula semua Orang Rimba itu jahat dan liar…Kami sama seperti semua orang di bumi. (TRIBUNJOGJA.COM)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved