Juara Lomba Bartender Pernah Ditentang Orangtua

Eko pernah meraup Rp 20 juta dari lomba bartender. Namun dulu orangtuanya tak senang profesi Eko.

Tayang:
Editor: jun
zoom-inlihat foto Juara Lomba Bartender Pernah Ditentang Orangtua
TRIBUN JOGJA/KOLEKSI PRIBADI
Eko Prabowo unjuk kebolehan sebagai bartender.
Laporan Reporter Tribun Jogja, Mona Kriesdinar

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Bartender menjadi profesi mengasyikkan bagi Eko Prabowo (23) sekarang. Namun,  jalan Eko mencapai keasyikan tersebut tidak mulus, karena orangtua Eko pernah menentangnya.


Ngapain sih lempar-lempar botol? Percuma, tidak akan bisa menghidupi,” papar Eko menirukan ucapan orangtuanya,ketika diwawancara Tribun Jogja, di Tamansari Foodcourt Ambarrukmo Plasa, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa (25/1/2011).


Menurut Eko, sikap orangtuanya kala itu menjadi salah satu indikasi bahwa profesi bartender masih memunculkan stigma negatif pada sebagian orang. Terlebih, bagi yang belum mengenal lebih dalam seluk beluk bartender. “Wajar, karena kehidupan kami lekat dengan dunia malam,” katanya, 

Eko menjelaskan, bartender bukan sekadar bartender (dalam pengertian pencampur minuman), melainkan pusat perhatian yang bisa menghidupkan suasana di klub malam. Selain itu, bartender juga harus memiliki keterampilan artistik dan keahlian meracik minuman. “Kami adalah entertainer,” tegasnya. 

Bagimana Eko menyikapi pandangan negatif masyarakat, termasuk orangtuanya, itu? Dia merasa semakin tertantang untuk membuktikan bahwa anggapan tersebut salah. “Saya sempat janji pada diri saya sendiri bahwa saya tidak akan pulang selama belum bisa membuktikan profesi bartender juga bisa menghasilkan,” kenangnya. 

Janji itu pun terpenuhi. Setelah berlatih keras dan bekerja sejak akhir 2006 silam, kini Eko memetik hasilnya. “Biasanya saya dibayar per jam, antara Rp 200 ribu-Rp 300 ribu,” katanya.

Eko pun tak menghamburkan penghasilannya melainkan menggunakan untuk berinvestasi ke beberapa jenis usaha, antara lain, jasa laundry dan penjualan es cokelat. Hasil lain kerja keras Eko, di antaranya, satu unit motor sport dan biaya pernikahan.

Tidak Sengaja

Meski kini eksis sebagai salah satu bartender di Yogyakarta, dan pernah meraup Rp 20 juta saat menjadi juara dua kompetisi bartender di Jakarta pada 2010 lalu, namun Eko mengaku tidak sengaja terjun ke dunia bartender. Awalnya, saat masuk Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarukmo (Stipram) Yogyakarta Eko bercita-cita menjadi chief.

Cita-cita tersebut kandas karena kala itu, setiap pulang kuliah, ia sering menyaksikan teman kuliahnya memperagakan juggling (memainkan botol minuman, Red). Lama-kelamaan dirinya tertarik melakukan hal yang sama.

Akhirnya ia berkenalan Anton, sosok yang pertama kali memperkenalkan dunia bartender, dan membuat Eko pindah kuliah kejurusan bartender. “Sampai sekarang saya menekuni dan menikmati profesi saya,” tandasnya.

Eko juga rendah hati mengaku pernah gagal. “Waktu kompetisi Bacardi di Jakarta, saya kalah di final gara-gara memecahkan satu botol. Tapi dari situ saya belajar banyak. Banyak perubahan yang sudah saya lakukan. Kini saya bertekad 2011 ini adalah milik saya,” tegas pria penganut gaya bartender Latin ini.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved