3 Kuda Peraih Triple Crown: Sejarah dan Perjuangan di Lintasan Balap

Triple Crown, sebuah gelar dalam pacuan kuda yang sangat sulit untuk bisa diraih. Hanya ada tiga kuda yang berhasil meraih gelar ini di Indonesia.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Instagram @sarga.co
Indonesia's Horse Racing: Indonesia Derby 2025. 

Di sinilah ketangguhan stamina atau endurance Djohar Manik benar-benar diuji hingga batas maksimal. Melawan rival-rival berat seperti Red Silano dan kuda-kuda papan atas lainnya, Djohar Manik tampil perkasa. 

Strategi pace yang diterapkan pelatih Eddy Saddak berjalan mulus. 

Djohar Manik mampu menyimpan tenaga di tikungan-tikungan awal dan meledak di trek lurus terakhir Pulomas. 

Kemenangan di Derby ini tidak hanya mengukuhkan statusnya sebagai peraih Triple Crown, tetapi juga menempatkan Aragon Stable kembali ke puncak supremasi pacuan kuda nasional. 

Djohar Manik membuktikan bahwa untuk meraih gelar ini, seekor kuda harus memiliki paket lengkap. 

Kecepatan layaknya sprinter dan napas panjang layaknya pelari maraton.

King Argentin (Tahun 2025)

King Argentin juara Triple Crown 2025.
King Argentin juara Triple Crown 2025. (Dok: SARGA.CO)

Melompat satu dekade kemudian, sejarah emas kembali terukir pada tahun 2025. 

Dunia pacuan kuda Indonesia yang sempat merindukan sosok ikonik akhirnya dijawab oleh kehadiran King Argentin. 

Jika Djohar Manik adalah simbol dominasi genetik lokal, King Argentin hadir sebagai representasi era baru industri pacuan kuda yang lebih modern, megah, dan bernilai tinggi. 

Statistik pencapaian King Argentin di musim 2025 menjadi buah bibir, bukan hanya karena ia menyapu bersih tiga gelar juara seri.

Tetapi juga karena konteks kompetisi yang jauh lebih ketat dan hadiah yang fantastis.

Perjalanan King Argentin menuju takhta Triple Crown dimulai dengan kemenangan meyakinkan di seri pembuka dan kedua.

Namun sorotan utama dunia tertuju pada partai final, Indonesia Derby 2025. 

Balapan ini mencatatkan rekor statistik penonton tertinggi dalam sejarah modern pacuan kuda Indonesia, dengan lebih dari 36.000 pasang mata memadati tribun dan sisi lintasan. 

Animo yang luar biasa ini sebanding dengan apa yang dipertaruhkan di lintasan. 

King Argentin tidak hanya mengejar piala, tetapi juga memburu total hadiah (prize money) yang mencapai Rp 1 Miliar.

Sebuah angka yang menaikkan prestise Triple Crown ke level yang belum pernah tersentuh sebelumnya.

Di lintasan, King Argentin menunjukkan karakteristik yang sedikit berbeda namun seefektif pendahulunya. 

Para pengamat dan horse trainer veteran yang menyaksikan langsung Derby 2025 sering membandingkan gaya larinya dengan Djohar Manik. 

Meski memiliki postur yang sedikit berbeda, King Argentin memiliki stride (langkah kaki) yang sangat lebar dan efisien. 

Dalam duel-duel krusial di lintasan, terutama saat melawan kuda-kuda pesaing yang mencoba melakukan blocking, King Argentin memiliki kecerdasan spasial untuk mencari celah.

Pada balapan pamungkas Indonesia Derby 2025 tersebut, statistik waktu tempuh King Argentin sangat impresif. 

Ia berhasil mempertahankan kecepatan puncaknya (top speed) di 200 meter terakhir.

Sebuah fase di mana kebanyakan kuda mulai melambat akibat kelelahan asam laktat. 

Para pelatih senior menyebut bahwa "mesin" jantung dan paru-paru King Argentin memiliki kapasitas di atas rata-rata kuda seusianya.

Kemenangan King Argentin di tahun 2025 juga menjadi simbol kebangkitan ekonomi olahraga berkuda

Dengan hadiah Rp 1 Miliar dan puluhan ribu penonton, King Argentin menjadi magnet yang menarik sponsor dan perhatian media massa secara masif.

Ia tidak hanya menjadi juara bagi pemiliknya, tetapi juga menjadi duta yang membuktikan bahwa pacuan kuda di Indonesia telah bangkit dari tidur panjangnya sejak era Djohar Manik. 

Keberhasilan King Argentin meraih Triple Crown menegaskan bahwa meski zaman berubah dan teknologi pelatihan berkembang.

Hukum dasar pacuan kuda tetap sama.

Kombinasi sempurna antara genetika unggul, strategi joki yang cerdas, dan hati seekor juara yang tak mau kalah hingga garis finis.

Baca juga: Ingin Pacu Adrenalin dengan Hobi Berkuda? Cek Starter Pack Wajib Ini!

Ketiga kuda legendaris ini telah membuktikan bahwa gelar Triple Crown bukan sekadar soal kecepatan.

Melainkan harmoni sempurna antara genetika unggul, strategi joki yang cerdas, dan mental juara yang tak kenal menyerah. 

Kini, standar tinggi telah ditetapkan oleh para pendahulu, menantang generasi kuda pacu berikutnya untuk melampaui batas kemampuan yang ada demi meraih kejayaan serupa. 

Publik tentu berharap momentum kebangkitan ini terus berlanjut agar industri pacuan kuda tanah air semakin bersinar dan kompetitif di masa depan. 

Sejarah baru pun kini menanti untuk ditulis oleh sang juara masa depan di lintasan balap Indonesia. (MG Romadhon)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved