3 Kuda Peraih Triple Crown: Sejarah dan Perjuangan di Lintasan Balap

Triple Crown, sebuah gelar dalam pacuan kuda yang sangat sulit untuk bisa diraih. Hanya ada tiga kuda yang berhasil meraih gelar ini di Indonesia.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Instagram @sarga.co
Indonesia's Horse Racing: Indonesia Derby 2025. 

Kisah dominasi mutlak dari salah satu stable legendaris di tanah air, Aragon Stable yang bermarkas di Lembang, Jawa Barat. 

Setelah puasa gelar Triple Crown selama 12 tahun pasca-era Manik Trisula, publik pacuan kuda akhirnya menemukan idola baru pada sosok kuda jantan berwarna dark bay ini. Djohar Manik bukan sekadar kuda pacu biasa.

Djohar adalah manifestasi dari pemuliaan genetik (breeding) yang sempurna. 

Lahir pada tahun 2011, ia merupakan putra dari pejantan tangguh Rusa I dan induk betina Arum Manis. 

Darah juara yang mengalir deras di tubuhnya dipoles dengan tangan dingin pelatih kawakan, Eddy Saddak, serta dukungan penuh pemiliknya, Karissa dan Karina Saddak.

Perjalanan Djohar Manik meraih "Tiga Mahkota" pada tahun 2014 adalah sebuah masterclass dalam strategi pacuan. 

Statistik kemenangannya di tiga seri tersebut menunjukkan fleksibilitas jarak yang luar biasa, sebuah syarat mutlak bagi calon juara Triple Crown. 

Pada Seri I (Piala Pertiwi), Djohar Manik harus membuktikan kecepatan murninya di lintasan sprint jarak pendek 1.200 meter. 

Di sini, karakter eksplosifnya diuji. Kuda ini berhasil melesat bak peluru, menaklukkan lawan-lawannya dengan kecepatan rata-rata yang mengagumkan, membuktikan bahwa ia tidak hanya kuat, tetapi juga gesit.

Tantangan sesungguhnya mulai terlihat pada Seri II (Piala Tiga Mahkota). 

Jarak lintasan meningkat menjadi 1.600 meter, sebuah jarak transisi yang kerap "membunuh" kuda-kuda spesialis sprint. 

Namun, Djohar Manik yang saat itu ditunggangi oleh joki andalannya, J. Turangan, menunjukkan kematangan mental yang jauh melampaui usianya. 

Ia tidak terpancing untuk memforsir tenaga di awal, namun mampu menjaga ritme di barisan depan sebelum melakukan sprint penutup yang mematikan di 400 meter terakhir.

Puncaknya terjadi di Seri III, yakni Indonesia Derby 2014. 

Ini adalah "neraka" bagi kuda muda karena jarak tempuh yang mencapai 2.000 meter (jarak klasik Derby). 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved