6 Rekomendasi Drakor Underrated Bertema Pembullyan Sekolah

Alur dan plotnya dipersiapkan dan dibungkus serapi dan seniat mungkin. Sayangnya, tidak semua drama berkualitas ini mendapat popularitas besar.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Tribunnews.com
Drama Korea Bitch X Rich 

Ringkasan Berita:
  • Drakor-drakor ini menampilkan isu bullying sekolah secara gelap, realistis, dan emosional.
  • Setiap cerita mengangkat bentuk bullying yang berbeda, dari hierarki sosial hingga balas dendam.
  • Meski underrated, alurnya kuat dan penuh pesan moral.

TRIBUNJOGJA.COM - Korea Selatan memang tidak pernah gagal jika memproduksi drakor dengan tema pembullyan.

Semua alur dan plotnya dipersiapkan dan dibungkus serapi dan seniat mungkin.

Tak jarang, beberapa alur dari cerita nyamemang terinspirasi dari kejadian asli kehidupan nyata.

Alurnya disusun dengan menyajikan konflik remaja, dibedah secara mendalam,

mulai dari kekerasan fisik, tekanan mental, manipulasi sosial, hingga trauma psikologis yang membekas.

Hal inilah yang membuat alur ceritanya terasa gelap, realistis, dan sering kali membuat penonton ikut marah dan geregetan.

Sayangnya, tidak semua drama berkualitas ini mendapat popularitas besar. Beberapa justru tergolong underrated, meski ceritanya seru dan relevan.

Berikut enam drakor underrated bertema pembullyan sekolah yang wajib ditonton jika ingin cerita yang emosional dan penuh teka-teki.

Baca juga: 4 PlotTwist Drakor Can This Love Be Translated? Bikin Penonton Mikir Ulang

1. Pyramid Game (2024)

Pyramid Game
Pyramid Game (AsianWiki)

Drakor Pyramid Game sudah rilis sejak Februari 2024 lalu, dan mendapat rating 7,5/10 di IMDb.

Diperankan oleh Kim Ji-yeon (Bona), Jang Da-ah, Ryu Da-in, menghadirkan potret pembullyan yang sistematis dan mengerikan. 

Berlatar di sekolah menengah khusus perempuan, drama ini memperkenalkan sebuah “permainan” bernama Pyramid Game,

di mana para siswi SMA Baekhyeon melakukan voting rahasia setiap bulan untuk menentukan peringkat sosial.

Siswi yang berada di peringkat terbawah otomatis menjadi target perundungan massal tanpa perlindungan dan simpati. 

Drama ini dengan dingin memperlihatkan bagaimana kekerasan bisa dianggap wajar ketika dilegalkan oleh sistem dan disepakati bersama.

Tidak ada pelaku tunggal, karena hampir semua orang terlibat.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved