Dari Bantul, Bleeedrz Rilis Album Debut Penuh Eksperimen Noise Pop

Unit Asian noise pop asal Bantul, Bleeedrz akhirnya merilis album penuh perdana mereka setelah sempat tertunda hampir setahun.

Penulis: Santo Ari | Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Personel Bleeedrz 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Unit Asian noise pop asal Bantul, Bleeedrz akhirnya merilis album penuh perdana mereka setelah sempat tertunda hampir setahun.

Proyek yang digagas R. Ristiani, R. Triwibowo, YH. Sagala, dan HM. Setiawan sejak pertengahan 2024 ini sebelumnya sempat memperkenalkan diri lewat maxi single ‘Sirna / Sayangnya’ pada Maret 2025, lengkap dengan video klip hasil kolaborasi dengan The Bakoran Production.

Kesibukan manggung di berbagai gigs kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah membuat proses album sempat tertunda.

Namun pada 9 April 2026, mereka resmi melepas album bertajuk ‘Empat kali empat enam belas, sempat tidak sempat harap dibalas’ ke berbagai platform streaming digital.

Album ini memuat sepuluh trek, termasuk dua nomor instrumental, dengan pendekatan yang cukup khas.

Bleeedrz memadukan pop hook yang mudah diingat dengan elemen noise berupa gangguan teknis, distorsi, hingga feedback amplifier yang sengaja dipertahankan sebagai bagian dari estetika. 

Pada empat lagu pembuka, mereka bahkan bereksperimen dengan pendekatan yang disebut akan terasa maksimal jika didengarkan dalam format fisik.

“Album ini berisi kisah nyata yang dialami manusia modern abad dua puluh satu. Disesuaikan di sana-sini agar sesuai dengan tempo, mood dan tingkat kebisingan yang dihasilkan. Dengan harapan dapat diterima oleh khalayak yang merasakan hal yang sama,” ujar team Bleeedrz.

Baca juga: Kunjungi Akmil, Titiek Soeharto Tanamkan Visi Strategis kepada Taruna TNI-Polri

Pembuka album, ‘Biarkan Kami Bercinta’, hadir sebagai instrumental pendek dengan nuansa mendayu yang langsung dibalut noise.

Lalu ‘Lagu Patah Hati’ mengangkat ironi rasa jenuh bekerja yang hanya bisa dipendam, sementara ‘Sirna’ bercerita tentang ketidakadilan di dunia kerja yang dialami seorang karyawan tanpa koneksi.

‘Gelora (Cinta Remaja)’ kemudian membawa pendengar pada nostalgia masa remaja yang ringan dan hangat.

Memasuki paruh tengah, ‘Sayangnya’ menyorot cinta bertepuk sebelah tangan yang meninggalkan kesan pahit pertama, disusul ‘Budi (Tak Ingin Bercinta Lagi)’ yang membangun narasi patah hati dengan sentuhan sinematik, termasuk potongan orasi di bagian awal.

 ‘Oh Kasihan’ menggambarkan cinta yang membutakan logika, sementara ‘Sampah’ justru mengambil sudut pandang pelaku dalam relasi toxic yang sadar menyakiti namun tetap bertahan.

Di bagian akhir, ‘Bersamamu Selamanya’ membawa cerita yang lebih ganjil tentang seorang debt collector dan klien yang menghilang tanpa jejak, diterjemahkan dalam atmosfer penuh tanda tanya.

Album kemudian ditutup dengan instrumental ‘Ketika Cinta Telah Berlalu’, terinspirasi dari suasana senja yang absurd di kawasan persawahan Ngoto, Bantul.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved