ISI Yogyakarta Siapkan Riset Guna Hadapi Era Disrupsi AI Generatif
Rektor ISI Yogyakarta menyebut tetap perlu memahami bagaimana ketika AI berkembang menjadi alat bantu, etika, dan fitur melalui berbagai cara.
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Irwandi, menegaskan bahwa kehadiran Artificial Intelligence (AI) generatif di era modern merupakan disrupsi yang tidak mungkin dilawan oleh seniman.
Hal itu diutarakan dalam Seminar Nasional Dies Natalis Ke-42 bertema Dialektika Seni Dan AI Dalam Rekonstruksi Nilai Estetika di Concert Hall ISI Yogyakarta, Rabu (17/6/2026) siang.
"Kami di ISI, masih terus mencari cara bagaimana mengantisipasi AI. Kacamata kami bukan orang informatika, bukan riset terkait teknologi, kami orang seni. Sehingga sudah mulai terasa bahwa kehadiran AI generatif ini mau tidak mau harus memfokuskan bagaimana diri ketika sosok seorang seniman atau manusia harus bersikap ketika ada AI," katanya.
Kendati demikian, kehadiran AI di era saat ini tidak mungkin dilawan.
Bahkan, dalam sejarah tidak ada manusia menang melawan disrupsi.
"Sebagai contoh, rekan-rekan seni lukis sampai berkata from now, painting is dead yang menjadi bentuk manusia dalam menghadapi disrupsi," katanya.
Pihaknya pun meyakini bahwa khas karya manusia dan mesin tidak bisa sama persis.
Akan tetapi, pihaknya menyebut bahwa AI dinilai perlu dilakukan antisipasi.
Walau begitu, pihaknya tetap perlu memahami bagaimana ketika AI berkembang menjadi alat bantu, etika, dan fitur melalui berbagai cara.
"Sebagai gambaran, arah riset ISI Yogyakarta, kami tahun ini ada 139 riset. Jadi, riset-riset kami memang masih terbagi konsentrasinya yaitu tentang bagaimana AI diposisikan sebagai alat bantu dan bagaimana dia menjadi intelligence cooperation. Jadi dari 139 ini mungkin ada 10 yang mengangkat riset dan mengaitkan dengan karya AI," terang dia.
Baca juga: Dies Natalis ke-42, ISI Yogyakarta Siapkan 21 Rangkaian Agenda Seni hingga Agustus 2026
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Elektronika Dan Informatika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Budi Prawara, berujar bahwa AI menjadi cabang dari ilmu komputer yang berfokus pada pengembangan sistem, mesin, atau perangkat lunak agar mampu melakukan tugas yang biasanya memerlukan kecerdasan manusia.
"Nah, AI ini tentunya tidak dapat berfungsi atau berperan jika kita tidak memiliki data-data yang bisa mentraining. Jadi media belajar dari data kemudian penalaran, pengambilan keputusan, memecahkan masalah, memahami bahasa alami dan juga bisa memahami pola," tuturnya.
Lebih lanjut, pihaknya akan memfasilitasi dan mendukung industri kreatif. Apalagi, pihaknya memiliki Render Farm untuk industri animasi dan kreatif digital Indonesia.
Di mana, Render Farm menjadi sarana yang ditunjukan untuk perusahaan animasi melakukan proses rendering animasi dengan waktu dan computing resource yang memadai.
"Kami, BRIN dapat memberikan berbagai macam fasilitas untuk para kolaborator riset di luar BRIN yakni untuk universitas, institut, pemerintah, masyarakat umum, hingga lain sebagainya. Sampai di kepada masyarakat umum, kami juga punya fasilitas riset. Kami punya program riset akar rumput, bagi bapak/ibu yang punya inovasi," tutup dia.(*)
| Royal Ambarrukmo Yogyakarta Lepas Mahasiswa Magang ISI Yogyakarta |
|
|---|
| Band Marsmolys Gelar Pameran Seni di ISI Yogyakarta, Padukan Musik dan Seni Rupa |
|
|---|
| Mengulik Karya Ikonik Nor Jayadi, Kursi Ergonomis Berbalut Sejarah Yogyakarta |
|
|---|
| Dies Natalis ke-42, ISI Yogyakarta Siapkan 21 Rangkaian Agenda Seni hingga Agustus 2026 |
|
|---|
| Melihat Pameran Kriya Organik di ISI Yogyakarta, Ada Karya Berbahan Kombucha |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/20261706-Dies-Natalis-ISI-Jogja.jpg)