Rencana Sekolah Daring Batal, Pendidik di Jogja: Interaksi Fisik Tak Bisa Diganti Layar Gawai

Lain kali, penguasa harusnya lebih cermat dalam menggulirkan wacana kebijakan yang berdampak masif terhadap ekosistem pendidikan.

Tayang:
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Yoseph Hary W
Freepik
KELAS KOSONG: Ilustrasi kelas kosong. Pemerintah pusat sempat membuat para siswa dan orang tua serta pendidik dan guru khawatir dengan wacana kebijakan sekolah daring sebagai bagian dari efisiensi dan penghematan energi. Wacana itu akhirnya batal, ruang kelas tidak jadi kosong. 

Ringkasan Berita:
  • Pemerintah membatalkan rencana sekolah daring mulai April 2026 dan tetap fokus pada pembelajaran tatap muka.
  • Pendidik DIY menilai tatap muka penting untuk karakter, kolaborasi, dan mencegah learning loss.
  • Pengalaman pandemi menunjukkan banyak kendala disiplin dan pengawasan saat belajar daring.
  • Orang tua siswa lega karena tatap muka dianggap lebih kondusif dan mendukung sosialisasi anak.
  • Ke depan, kebijakan pendidikan diharapkan hanya berubah drastis jika kondisi darurat memaksa.
 

 

TRIBUNJOGJA.COM - Pembatalan wacana pembelajaran dalam jaringan atau daring bagi siswa sekolah yang sedianya berlaku mulai April 2026 disambut baik oleh kalangan pendidik di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)

Pembelajaran tatap muka dinilai mutlak dipertahankan, bukan sekadar untuk mengejar target akademik, melainkan demi menjaga efektivitas penanaman karakter dan mencegah learning loss.

Sebelumnya, wacana pengembalian metode sekolah daring sempat mencuat sebagai bagian dari kajian kebijakan efisiensi dan penghematan energi pemerintah pusat. 

Namun, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno pada Selasa (24/3/2026) menegaskan bahwa opsi tersebut batal diterapkan.

Pemerintah memilih fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan memastikan proses belajar tetap berjalan secara luar jaringan (luring).

Pertanyakan urgensi rencana pusat

Kepala SMA Negeri 6 Yogyakarta, Sri Moerni, sepakat dengan keputusan pembatalan tersebut. Mewakili kekhawatiran pihak sekolah dan orangtua murid, ia mempertanyakan urgensi rencana awal pemerintah, mengingat kondisi saat ini berjalan normal. 

Berkaca pada pengalaman pandemi Covid-19, pembelajaran daring dinilai menghilangkan banyak aspek krusial dalam pendidikan.

"Karena kondisinya kan juga tidak bermasalah, kenapa harus daring? Lalu alasannya apa tiba-tiba daring? Tapi, kalau berkaca pada saat Covid kemarin, ketika daring itu kan ada sesuatu yang hilang. Masa harus diulang lagi, sih? Ya, jelas (ada yang hilang). Karena kalau langsung bertemu dengan anak-anak itu kan segala sesuatunya lebih mudah untuk diatur," kata Moerni, Rabu (25/3/2026).

Perencanaan pembelajaran jelas

Moerni menjabarkan, interaksi fisik di sekolah memudahkan tenaga pendidik dalam mengukur keberhasilan belajar mengajar. Fungsi sekolah ditegaskannya tidak sebatas mentransfer ilmu pengetahuan.

"Artinya, perencanaan pembelajaran bisa lebih jelas. Target capaiannya menjadi lebih jelas. Kemudian, waktu yang tersedia bisa ditata sedemikian rupa sehingga antara perencanaan dengan goal-nya itu nyambung. Betul, karena kan tidak hanya mendapatkan materi ajar sih, tapi lebih ke bagaimana anak belajar berkolaborasi, berkomunikasi, dan penanaman karakternya. Bagaimana kegiatan—apa istilahnya—yang berkaitan dengan penguatan keagamaan dan lain-lain. Jadi, ada banyak hal yang bisa dikerjakan bersama siswa jika anak-anak berada langsung di sekolah," paparnya.

Catatan buruk belajar daring selama pandemi

Keputusan pemerintah untuk menepis opsi pembelajaran hybrid maupun daring penuh dinilai sejalan dengan realitas di lapangan.

Pengalaman menyelenggarakan sekolah daring pada masa pandemi Covid-19 lalu menyisakan catatan tersendiri bagi tenaga pendidik di SMAN 6 Yogyakarta, khususnya terkait kendala pengawasan kedisiplinan siswa di rumah.

Meskipun sekolah memiliki tim teknis yang solid untuk memfasilitasi guru-guru senior dalam mengoperasikan perangkat daring, tantangan terberat justru terletak pada kontrol terhadap perilaku siswa di balik layar gawai mereka.

"Kendala kami waktu itu yang pertama, setiap kali pembelajaran daring kan harus memastikan anak-anak itu apakah benar-benar mengikuti pembelajaran atau hanya pasang foto. Itu kan menjadi sesuatu yang menurut kami penting sekali. Jangan-jangan anak itu hanya pasang foto, tapi entah apa yang dikerjakan kan kita tidak tahu," ungkap Moerni.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved