Human Interest Story
Kisah Ryaas Amin, Mahasiswa UGM Biayai Kuliah Sendiri Sambil Jadi Driver Ojol
Mahasiswa Fakultas Psikologi UGM tersebut bekerja sebagai pengemudi ojek daring (ojol) dan pengantar makanan.
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tidak ingin terlalu membebani orangtua menjadi alasan Ryaas Amin untuk bekerja sambil menjalani kuliah sarjana di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Mahasiswa Fakultas Psikologi UGM tersebut bekerja sebagai pengemudi ojek daring (ojol) dan pengantar makanan.
Awalnya ia hanya coba-coba saja dengan meminjam akun orang lain sekitar tahun 2020 lalu.
Namun karena menghasilkan uang yang lumayan, ia melanjutkan dengan akun sendiri.
Baru pada tahun 2023, ia menekuni pekerjaan ini sambil kuliah.
Tak Mudah
Menjalani perkuliahan sambil bekerja tentu tidak mudah.
Ia harus membagi fokus, agar kuliahnya tidak terganggu. Manajemen waktu menjadi kunci.
“Jadi sebelum kuliah itu kan, KRS-an (Kartu Rencana Studi). Setelah di-approve, jadwal (kuliah) sudah keluar, saya bikin jadi wallpaper HP. Biar inget jam berapa harus ke kampus,” katanya saat dihubungi, Senin (2/2/2026) malam.
Ia mengakui sempat mengalami kesulitan dalam mengatur waktu.
Namun ia tetap memprioritaskan studinya.
Apalagi ia adalah anak pertama di keluarganya yang melanjutkan ke pendidikan tinggi.
“Di keluarga kecil itu, saya yang pertama bisa kuliah. Mbak (kakak perempuan) saya langsung kerja (setelah lulus SMA). Jadi ini amanah ya, biar bisa menyenangkan keluarga. Jadi tetap tak jaga (motivasi menuntaskan kuliah),” sambungnya.
Baca juga: Tim Semar UGM Raih Dua Gelar Juara pada Ajang Shell Eco-Marathon di Qatar
Ingin Mandiri
Keinginan untuk mandiri juga menjadi alasannya kuliah sambil bekerja.
Itu terbukti, hasil kerjanya dimanfaatkan untuk membayar biaya kuliah.
Sejak tahun 2023, ia tidak meminta uang kuliah dari orangtuanya.
Menurutnya, ada banyak pengalaman dan pelajaran hidup yang ia pelajari dari bekerja sambil kuliah.
Ilmu resolusi konflik dari kuliahnya pun berguna saat bekerja.
Pasalnya, ada banyak konsumen yang ia temui.
Ada beberapa konsumen yang rewel, sehingga ia pun harus menangani konflik sendiri.
Selain manajemen konflik, ia juga belajar adaptasi dengan cepat.
Sebab, hampir setiap hari ia menemui orang baru.
Mau tidak mau, ia pun harus menyesuaikan diri.
Prioritaskan Skripsi
Saat ini, anak kedua dari tiga bersaudara itu tengah mengerjakan skripsi.
Agar tetap fokus, intensitasnya bekerja sedikit lebih kendor.
Jika sebelumnya ia menuntaskan 13 hingga 14 orderan setiap hari.
Kini ia mengerjakan 4 hingga 5 orderan. Itu pun tidak setiap hari dilakukan.
“Sekarang saya narik paling cuma 2 atau 3 hari, itu pun nggak ngoyo,sedapetnya aja. Soalnya kan memang prioritasnya skripsi dulu. Target bisa wisuda Mei 2026,” ujarnya.
“Untuk cita-cita sekarang pengen lulus dan bisa membanggakan orangtua. Setelah lulus pengen segera bisa bekerja, punya pekerjaan yang settle (tetap). Pengennya sih di industri kreatif,” imbuhnya. (*)
| Kisah Azizah, Bocah 6,5 Tahun di Kota Yogyakarta Cari Rongsok hingga Rawat Ayah Sakit |
|
|---|
| Kisah Mbah Kibar, Seniman Asli Bantul yang Berjuang Tebus Tanah Leluhur Lewat Goresan Kanvas |
|
|---|
| Kisah Santri Yaketunis Yogyakarta Menjemput Cahaya Alquran Lewat Titik-titik Braille |
|
|---|
| Cerita Santri Darul Ashom di Godean Sleman, Mengejar Cita-cita Jadi Pengajar Agama bagi Tunarungu |
|
|---|
| Kisah Aji Ramadan, Driver Ojol yang Lulus Cumlaude Sarjana Hukum UGM |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Ryaas-Amin-UGM.jpg)