Mahasiswa UMBY Belajar dan Berbagi, Terapi Olahraga Inklusif untuk Komunitas Difabel.
Aktivitas jasmani tidak hanya diposisikan sebagai latihan fisik, tetapi juga sebagai sarana membangun kepercayaan diri peserta.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gerakan sederhana yang disesuaikan dengan kemampuan peserta menjadi pengalaman baru bagi anggota Komunitas Difabel Pinilih, Sedayu, Bantul, saat mahasiswa Ilmu Keolahragaan FKIP Universitas Mercu Buana Yogyakarta menggelar Workshop Terapi Olahraga Inklusif, Kamis (15/1/2026) lalu.
Kegiatan bertajuk “Gerak Sehat Tanpa Batas” tersebut diselenggarakan oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Keolahragaan angkatan 2022 sebagai implementasi mata kuliah Aktivitas Jasmani dan Terapi Bermain Okupasi untuk Anak Difabel pada semester 7.
Workshop berlangsung di lingkungan komunitas dan diikuti 30 peserta yang terdiri atas anggota Komunitas Difabel Pinilih, para pendamping, serta masyarakat sekitar.
Sejak awal kegiatan, mahasiswa merancang materi dengan pendekatan adaptif dan partisipatif.
Peserta diajak memahami konsep dasar terapi olahraga inklusif yang menekankan prinsip aman, menyesuaikan kondisi fisik, serta membuka ruang partisipasi aktif.
Aktivitas jasmani tidak hanya diposisikan sebagai latihan fisik, tetapi juga sebagai sarana membangun kepercayaan diri peserta.
Selain penyampaian materi, mahasiswa memandu praktik aktivitas jasmani adaptif yang bertujuan meningkatkan koordinasi gerak.
Setiap gerakan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing peserta, dengan pendampingan langsung agar latihan dapat dilakukan secara aman dan nyaman.
Salah satu sesi yang paling diminati peserta adalah praktik gerak dasar terapi massage untuk cedera olahraga.
Dalam sesi ini, peserta memperoleh pengetahuan mengenai penanganan cedera ringan secara mandiri.
Pelatihan tersebut sekaligus memperkuat keterampilan pijat tradisional yang telah dimiliki sebagian anggota komunitas.
“Saya merasa senang dan terbantu dengan adanya Workshop Terapi Olahraga Inklusif ini, praktek massage (pijat) untuk cedera yang diberikan mudah dipahami dan gerakannya disesuaikan dengan kemampuan kami, sehingga sangat sesuai, aman dan bermanfaat untuk diikuti,” ujar Noor Asridah, salah satu peserta penyandang disabilitas daksa.
Apresiasi juga disampaikan pengurus Komunitas Difabel Pinilih, Tri Maria.
Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan manfaat nyata bagi komunitas, terutama dalam meningkatkan pemahaman mengenai aktivitas gerak yang aman bagi penyandang difabel.
“Kami berharap kerja sama dan kegiatan serupa dapat terus berlanjut sebagai bentuk dukungan terhadap kesehatan dan kebugaran penyandang difabel,” ujarnya.
Baca juga: Dua Dosen Psikologi UMBY Terima Insentif Jurnal Internasional Bereputasi 2025
Metode Partisipatif
| Gelombang Demontrasi Meluas, Prof Masduki: Ini Akumulasi Kecewa Kinerja Prabowo-Gibran |
|
|---|
| Menelusuri Jejak Soto Rembang Mrican: Kuliner Legendaris Favorit Mahasiswa dan Alumni UNY |
|
|---|
| Demi Judi Online, Dua Pemuda Curi Uang Sekolah Milik Siswa Difabel dan Laptop SLB |
|
|---|
| NCFS National Stage 2026 Digelar di Yogyakarta, 10 Kampus Berebut Gelar Juara Nasional |
|
|---|
| Harga Pertamax Naik Signifikan, Efek Domino dan Inflasi Bayangi Daya Beli Masyarakat, UMKM Terancam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Terapi-Olahraga-Inklusif-untuk-Komunitas-Difabel.jpg)