5 Proses Dasar dalam Menulis Fiksi yang Penting Dipahami Penulis
Berikut ini lima proses penting dalam menulis karya fiksi bagi siapa pun yang ingin menekuni dunia kepenulisan!
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hari Susmayanti
Setelah draf awal selesai ditulis, mulailah masuk ke tahap revisi.
Revisi adalah proses yang memakan waktu cukup lama karena melibatkan evaluasi pada keseluruhan cerita.
Pada tahap ini, penulis harus bisa melihat karya secara objektif dan lebih kritis.
Sehingga tidak melibatkan pandangan subjektif yang dirasa membuat kekurangan naskah tidak terlihat.
Langkah revisi tidak hanya berfokus pada kesalahan teknis kepenulisan, tetapi juga meliputi aspek substansi cerita.
Penulis perlu meninjau kembali alur cerita, pengembangan tokoh, dan jalannya konflik.
Tahap ini setidaknya menjawab beberapa pertanyaan seperti, “Apakah konflik berkembang secara alami? Apakah tindakan tokoh sesuai dengan kepribadiannya? Apakah ending terasa memuaskan?”
Penekanan emosi juga menjadi salah satu fokus utama dalam revisi.
Penulis dapat menyelipkan narasi, dialog, atau monolog batin untuk memperkuat suasana pada cerita.
Jika terdapat bagian yang masih belum terasa ekspresinya, bisa diperjelas dengan mendeskripsikan lebih detail.
Sementara bagian yang tidak terlalu penting dalam cerita, terlalu bertele-tele, bisa dipangkas.
Revisi biasanya bisa hingga lebih dari satu kali.
Seringnya penulis melakukan revisi besar yang mengubah struktur cerita secara signifikan.
Meski memakan waktu panjang, tahap ini sangat menentukan kualitas akhir karya fiksi.
Bahwa revisi adalah bagian penting dari proses penulisan.
Tidak ada cerita yang sempurna pada draf pertama, sehingga penulis perlu bersikap terbuka terhadap masukan.
5. Penyuntingan Akhir
Tahap terakhir pada proses menulis karya fiksi merupakan penyuntingan atau editing akhir.
Langkah ini bertujuan memperbaiki aspek kebahasaan sesuai EYD V dan KBBI agar naskah nyaman dibaca dan layak dipublikasikan.
Pada tahapan ini, penulis perlu memperhatikan tanda baca, ejaan, struktur kalimat, dan diksi yang digunakan.
Konsistensi nama tokoh, istilah, serta point of view (sudut pandang) juga perlu diperiksa lebih teliti.
Hal-hal tersebut penting supaya pembaca lebih nyaman saat membaca dan karya lebih professional.
Oleh karena itu, penting bagi penulis untuk mempelajari EYD V dan aturan kepenulisan lainnya.
Proofreading ini sering kali diremehkan karena dirasa hanya masalah teknis.
Padahal, kesalahan kecil jika tidak sesuai EYD V atau ketentuan akan mengganggu kelancaran cerita dan mengurangi kualitas karya.
Jika memungkinkan, penulis disarankan meminta bantuan editor atau pembaca untuk memberikan masukan.
Hal itu dikarenakan pandangan orang lain sering kali membantu menemukan kekurangan/kesalahan yang tidak disadari oleh penulis.
Setelah proses ini selesai, naskah siap untuk dikirim ke penerbit, diikutsertakan lomba, atau publikasi secara mandiri.
Tahap ini menandai berakhirnya satu siklus menulis dari awal hingga akhir.
(MG Zahrah Suci Al Aliyah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Menulis-dengan-Gaya-Bahasa-04022025.jpg)