5 Proses Dasar dalam Menulis Fiksi yang Penting Dipahami Penulis

Berikut ini lima proses penting dalam menulis karya fiksi bagi siapa pun yang ingin menekuni dunia kepenulisan!

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hari Susmayanti
Pexels
Ilustrasi menulis fiksi. 
Ringkasan Berita:
  • Menulis fiksi adalah proses bertahap, dimulai dari menemukan ide, merencanakan cerita, hingga menulis draf awal agar alur dan karakter terbentuk jelas.
  • Revisi menjadi kunci penguatan cerita, karena di tahap ini penulis mengevaluasi alur, konflik, tokoh, serta emosi agar lebih hidup dan meyakinkan.
  • Penyuntingan akhir menyempurnakan naskah, dengan memperbaiki bahasa, ejaan, dan konsistensi supaya karya layak dibaca dan dipublikasikan.

 

TRIBUNJOGJA.COM - Proses menulis fiksi sering kali dianggap aktivitas yang hanya berimajinasi bebas semata. 

Padahal, di balik cerita yang menarik, mengalir, dan menyentuh emosi pembaca, terdapat proses panjang yang tidak sederhana.

Karya fiksi yang baik terlahir secara terstruktur dan berkesinambungan, melewati tahapan-tahapan penting untuk membangun cerita. 

Berikut ini lima proses penting dalam menulis karya fiksi bagi siapa pun yang ingin menekuni dunia kepenulisan, yakni: 

1. Menentukan Ide 

Proses pertama dalam menulis karya fiksi yaitu menemukan ide cerita.

Ide adalah rancangan yang tersusun di dalam pikiran yang menjadi fondasi utama dalam menentukan arah keseluruhan cerita.

Tanpa ide yang jelas, cerita tidak bisa tersusun dengan baik dari segi karakter, latar, alur, dan konflik cerita. 

Ide bisa didapatkan dari mana saja, mulai dari pengalaman pribadi, pengamatan terhadap lingkungan, peristiwa sosial, imajinasi, referensi bacaan, dan hal-hal lainnya.

Banyak pula penulis yang memulai cerita dari pertanyaan sederhana seperti, “What if?” atau “Bagaimana jika …?” yang akan dikembangkan menjadid konflik.

Beberapa teknik yang bisa digunakan untuk menemukan ide adalah brainstorming, freewriting, atau menggali tema-tema menarik dari kehidupan sosial.

Pada tahap ini pula, penulis sebaiknya mulai mencari tema besar cerita, misalnya mengenai keluarga, persahabatan, perjuangan, atau romansa.

Penentuan tema ini akan membantu supaya cerita tetap konsisten dari awal hingga akhir. Sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh pembaca. 

Penting untung diingat, bahwa ide tidaklah harus besar dan kompleks.

Ide sederhana yang terstruktur pun bisa menjadi karya yang kuat jika dijalankan dengan baik. 

Poin pentingnya, ide tersebut harus memiliki potensi konflik dan emosi yang mampu menggerakkan cerita.

Oleh karena itu, penentuan ide dan eksekusi harus sejalan beriringan bersama. 

2. Perencanaan Cerita 

Tahap selanjutnya yaitu perencanaan cerita, mulai dari tokoh, alur, latar, dan konflik.

Tahap ini sering kali kurang direncanakan dengan spesifik dan jelas, padahal sangat menentukan proses menulis ke depannya.

Perencanaan membantu penulis memiliki gambaran utuh mengenai cerita yang akan ditulis. 

Perencanaan dimulai dengan menyusun alur cerita, mulai dari awal, konflik berkembang, klimaks, hingga resolusi. 

Penulis juga perlu menentukan jenis alur yang akan digunakan, alur maju, mundur, atau campuran.

Selain itu detail kecil pada alur jika perlu juga ditambahkan. 

Jangan lupakan, pengembangan tokoh juga menjadi penting.

Penulis perlu mengenal karakter yang diciptakan, mulai dari watak, sifat, kebiasaan, latar belakang, hingga konflik batin yang dialami.

Sehingga tokoh yang dihasilkan akan membuat cerita terasa hidup dan lebih meyakinkan.

Kemudian penting juga untuk membuat tokoh yang masih bersifat realistis, tidak terlalu sempurna. 

Latar pada cerita tidak boleh diabaikan, mencakup tempat, waktu, dan suasana.

Penggambaran latar yang detail akan membuat cerita lebih mudah untuk dibayangkan oleh pembaca selama berlangsungnya peristiwa.

Oleh karena itu, saat mendeskripsikan latar harus benar-benar relevan dengan keadaan. 

Pada tahapan ini, penulis sangat dianjurkan untuk membuat outline atau kerangka cerita yang menjadi satu panduan.

Outline ini akan membantu penulis tetap berada pada satu jalur, bahkan jika muncul ide baru di tengah proses menulis.

Selain itu, outline menjaga konsistensi cerita jika sewaktu-sewaktu penulis writer block, penulis bisa melihat kerangka awal untuk melihat kembali jalan cerita.

Baca juga: Tips Menulis Naskah Film yang Menarik dan Mudah Dipahami

3. Menulis Draf Awal 

Tahap ketika adalah mulailah menulis.

Inilah proses di mana penulis akan menuangkan rencana-rencana di tahap sebelumnya ke dalam tulisan nyata.

Sayangnya, banyak penulis yang merasa takut salah atau ingin tulisannya langsung terlihat sempurna.

Padahal, draf awal tidak bertujuan untuk menjadi yang terbaik, tetapi berfokus untuk menyelesaikan cerita lebih dulu. 

Penulis disarankan untuk menulis secara mengalir, tanpa memikirkan kesalahan teknis seperti ejaan, pemilihan kata, atau struktur kalimat.

Menulis draf awal ini membutuhkan kedisiplinan yang tinggi.

Menentukan target harian, baik dalam jumlah kata maupun waktu, sehingga dapat menjaga konsistensi.

Selain itu, perasaan ragu dan tidak puas adalah hal yang semestinya diterima oleh penulis, karena hal tersebut wajar. 

Tidak sedikit karya best seller bermula dari draf awal yang berantakan.

Justru ketika tulisan yang belum sempurna, di situlah kesempatan penulis untuk terus evaluasi dan mengembangkan tulisannya.

Bagian terpenting, draf awal harus selesai agar proses menulis bisa berlanjut.

Karena tulisan bagus bukan yang paling sempurna, tapi tulisan yang selesai.

4. Revisi 

Setelah draf awal selesai ditulis, mulailah masuk ke tahap revisi.

Revisi adalah proses yang memakan waktu cukup lama karena melibatkan evaluasi pada keseluruhan cerita.

Pada tahap ini, penulis harus bisa melihat karya secara objektif dan lebih kritis.

Sehingga tidak melibatkan pandangan subjektif yang dirasa membuat kekurangan naskah tidak terlihat. 

Langkah revisi tidak hanya berfokus pada kesalahan teknis kepenulisan, tetapi juga meliputi aspek substansi cerita.

Penulis perlu meninjau kembali alur cerita, pengembangan tokoh, dan jalannya konflik. 

Tahap ini setidaknya menjawab beberapa pertanyaan seperti, “Apakah konflik berkembang secara alami? Apakah tindakan tokoh sesuai dengan kepribadiannya? Apakah ending terasa memuaskan?” 

Penekanan emosi juga menjadi salah satu fokus utama dalam revisi.

Penulis dapat menyelipkan narasi, dialog, atau monolog batin untuk memperkuat suasana pada cerita.

Jika terdapat bagian yang masih belum terasa ekspresinya, bisa diperjelas dengan mendeskripsikan lebih detail.

Sementara bagian yang tidak terlalu penting dalam cerita, terlalu bertele-tele, bisa dipangkas. 

Revisi biasanya bisa hingga lebih dari satu kali.

Seringnya penulis melakukan revisi besar yang mengubah struktur cerita secara signifikan.

Meski memakan waktu panjang, tahap ini sangat menentukan kualitas akhir karya fiksi.

Bahwa revisi adalah bagian penting dari proses penulisan.

Tidak ada cerita yang sempurna pada draf pertama, sehingga penulis perlu bersikap terbuka terhadap masukan.

5. Penyuntingan Akhir 

Tahap terakhir pada proses menulis karya fiksi merupakan penyuntingan atau editing akhir.

Langkah ini bertujuan memperbaiki aspek kebahasaan sesuai EYD V dan KBBI agar naskah nyaman dibaca dan layak dipublikasikan. 

Pada tahapan ini, penulis perlu memperhatikan tanda baca, ejaan, struktur kalimat, dan diksi yang digunakan.

Konsistensi nama tokoh, istilah, serta point of view (sudut pandang) juga perlu diperiksa lebih teliti.

Hal-hal tersebut penting supaya pembaca lebih nyaman saat membaca dan karya lebih professional.

Oleh karena itu, penting bagi penulis untuk mempelajari EYD V dan aturan kepenulisan lainnya. 

Proofreading ini sering kali diremehkan karena dirasa hanya masalah teknis.

Padahal, kesalahan kecil jika tidak sesuai EYD V atau ketentuan akan mengganggu kelancaran cerita dan mengurangi kualitas karya.

Jika memungkinkan, penulis disarankan meminta bantuan editor atau pembaca untuk memberikan masukan.

Hal itu dikarenakan pandangan orang lain sering kali membantu menemukan kekurangan/kesalahan yang tidak disadari oleh penulis. 

Setelah proses ini selesai, naskah siap untuk dikirim ke penerbit, diikutsertakan lomba, atau publikasi secara mandiri.

Tahap ini menandai berakhirnya satu siklus menulis dari awal hingga akhir. 

(MG Zahrah Suci Al Aliyah)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved