UAJY Kukuhkan Dua Guru Besar Program Studi Teknik Industri

Pengukuhan ini menambah jumlah guru besar Program Studi Teknik Industri di UAJY menjadi lima.

Tribun Jogja/Christi Mahatma Wardhani
PENNGUKUHAN - Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) mengukuhkan dua guru besar yakni Prof. Dr. Ir. Parama Kartika Dewa SP., S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng. dan Prof. Dr. Eng., Ir. Ririn Diar Astanti, S.T., M.MT., IPM., ASEAN Eng. 

Ini menunjukkan peran manusia penting dalam menjalankan operasi manufaktur di era industri 5.0

“Human-centric dalam sektor manufaktur modern adalah konsep yang menempatkan kebutuhan dan kemampuan manusia sebagai pusat dari proses produksi dan teknologi. Ini merupakan salah satu pilar utama dari industri 5.0, yang berfokus pada kesejahteraan pekerja, keberlanjutan, dan ketahanan industri,” ungkapnya.

Berdasarkan observasi yang dihadapi pelaku usaha, masih banyak peluang riset yang bisa dilakukan berbasis kolaborasi riset kajian supply chain dengan ergonomi.

Ia berharap ke depan dapat memberikan kontribusi yang berdampak pada supply chain di Indonesia..

Sementara itu, Prof. Dr. Eng., Ir. Ririn Diar Astanti, S.T., M.MT., IPM., ASEAN Eng. Menyampaikan pidato berjudul “Metode Klasik dan Teknologi Kontemporer Dalam Mendukung Pengambilan Keputusan Industri Berbasis Data: Refleksi Keilmuan, Arah, dan Tantangan”.

Ia menjelaskan metode klasik yang menjadi pilar keilmuan Teknik Industri, selamanya akan relevan, selama pada sistem yang menjadi obyek kajian Teknik Industri, seperti faktor manusia, mesin,material, metode masih ada.

Di sisi lain, setiap metode pasti memiliki beberapa tahapan.

Oleh karena itu teknik dan teknologi kontemporer dapat  diekplorasi.

Menurut dia, masih terbuka banyak kesempatan untuk mengeksplorasi penggunaan meetode klasik dan teknik serta teknologi kontemporer untuk menyelesaikan permasalahan industri.

“Teknologi yang saat ini sudah ada, kemungkinan besar akan berkembang lagi di masa yang akan datang dalam waktu yang tidak terlalu lama. Dan perkembangan tadi menciptakan perubahan-perubahan, baik itu pada lingkungan individu, keluarga, masyarakat, organisasi maupun pada tatanan negara,” ujarnya. 

Perubahan pada semua aspek, menciptakan tantangan tersendiri. Untuk bertahan, individu maupun organisasi perlu beradaptasi. 

“Adaptasi bisa dilakukan jika semua memiliki kesadaran untuk terus belajar. Selain creative thinking dan critical thinking, kemampuan untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat (long life learner) menjadi ketrampilan yang penting dan dibutuhkan saat ini,” imbuhnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved