Tim UGM Lakukan Penelitian Budidaya Melon Premium Hidroponik di Kulon Progo

Kulon Progo dinilai menjadi wilayah yang tepat untuk budidaya melon. Intensitas panas dan pengairan di kawasan

Istimewa/Dok. UGM
PENELITIAN: Tim Peneliti dari Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam, Field Research Center (FRC) melakukan penelitian budidaya melon premium hidroponik di Kulon Progo. 

Ringkasan Berita:
  • Tim Peneliti UGM, Field Research Center (FRC), melakukan penelitian budidaya melon premium hidroponik di greenhouse Kulon Progo
  • Kulon Progo dinilai cocok untuk budidaya Melon mengingat Intensitas panas dan pengairan di kawasan tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal.
  • Penelitian dan pendampingan berdampak pada peningkatan produktivitas melon tersebut.

 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN- Tim Peneliti dari Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam, Field Research Center (FRC) melakukan penelitian budidaya melon premium hidroponik di greenhouse. 

Riset yang dilakukan di Kulon Progo ini juga mengarah pada diversifikasi produk turunan. Melon hasil riset ini dikembangkan menjadi berbagai produk seperti cold press juice, produk permen, hingga pemanfaatan limbah menjadi tepung.

Ketua tim peneliti, Putri Rousan Nabila, S.T., M.T., mengatakan  melon merupakan tanaman buah yang memiliki daya tumbuh sangat baik di daerah tropis, dengan suhu panas serta intensitas air yang imbang. 

Kulon Progo cocok untuk Melon

Kulon Progo dinilai menjadi wilayah yang tepat untuk budidaya melon. Intensitas panas dan pengairan di kawasan tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal.

“Kondisi agroklimat di Kulon Progo, khususnya dari intensitas cahaya dan suhu lingkungan sangat cocok untuk komoditas melon,” katanya, Senin (12/1/2026).

Di sisi lain, melon memiliki umur simpan yang relatif panjang, sekitar 15 hari. Dengan demikian, melon dari Kulon Progo  ini dapat menjangkau pasar Kota Yogyakarta, Sleman dan sekitarnya.

Adanya Bandara YIA juga dipandang mampu membuka peluang pasar lebih luas. 

“Adanya FRC di Kulon Progo, kami ingin manfaatnya benar-benar dirasakan, bukan hanya dari segi fasilitas, tapi juga dari transfer pengetahuan kepada masyarakat,” ujarnya.

Produktivitas meningkat

Anggota peneliti, Dr. Eng. Yosephus Ardean Kurnianto Prayitno, S.T., M. Eng., menerangkan pihaknya melakukan pendampingan mulai dari proses budidaya hingga teknologi.  Dampaknya, produktivitas meningkat pesat hingga 85 persen.

“Dari 1.000 tanaman melon jenis sweet net 8, sekitar 850-900 tanaman berhasil produktif. Sekitar 599 kilogram buah masuk ke grade A, sehingga lebih dari 50 persen hasil panen masuk grade A,” terangnya.

Melalui konsep Open Farm di kawasan FRC UGM Kulon Progo, masyarakat dan petani sekitar dapat terlibat langsung dalam proses pembelajaran pertanian modern. 

Sarana penelitian

Lebih lanjut, ia ingin Open Farm ini juga sebagai sarana kunjungan berbasis penelitian, seperti yang telah dijalin oleh mitra dari Jepang, serta kegiatan summer course oleh FTP UGM. 

“Open farm ini terbuka untuk siapapun, tidak hanya masyarakat Kulon Progo. Pengunjung bisa memetik melon sambil belajar, karena sudah ada pemandu yang kami siapkan. Saya harap ini bisa menjadi wadah munculnya para petani-petani generasi muda yang sudah melek akan smart farming, yakni dengan menerapkan teknologi pada pertanian,” jelasnya.

Ia pun berharap riset melon di FRC UGM Kulon Progo ini dapat diarahkan pada penguatan pola kerja sama multi-helix yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat sekitar. (maw)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved