Filosofi dan Makna Jumlah Tangga pada Rumah Adat Suku Baduy
Salah satu elemen rumah Baduy yang paling menarik dan menyimpan filosofi mendalam adalah bagian tangga atau yang dalam bahasa Sunda disebut Golodog.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNJOGJA.COM - Masyarakat Suku Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, dikenal teguh memegang prinsip Lojor Heunteu Dipotong, Pendek Heunteu Disambung yang artinya panjang tidak dipotong, pendek tidak disambung.
Prinsip ini mencerminkan ketaatan masyarakat pada adat istiadat yang diwariskan leluhur yang terlihat jelas dalam arsitektur hunian tradisional Suku Baduy yaitu Rumah Adat Sulah Nyanda.
Salah satu elemen rumah Baduy yang paling menarik dan menyimpan filosofi mendalam adalah bagian tangga atau yang dalam bahasa Sunda disebut Golodog.
Jumlah anak tangga pada rumah adat Baduy tidak ditentukan secara acak, melainkan mengandung makna dan pesan moral yang menjadi pedoman hidup suku tersebut.
Golodog adalah teras sekaligus jembatan penghubung antara dunia luar (tanah) dengan dunia dalam (rumah).
Keberadaannya melambangkan transisi antara alam bebas yang penuh tantangan dan ruang privat yang penuh kedamaian.
Pada umumnya, jumlah anak tangga pada Rumah Adat Baduy hanya berjumlah ganjil, yaitu tiga anak tangga.
Angka ganjil ini bukanlah kebetulan, melainkan manifestasi dari ajaran dan nilai-nilai spiritual Baduy.
Makna Filosofi Angka Tiga
Angka tiga yang diyakini sebagai standar jumlah anak tangga pada Sulah Nyanda Suku Baduy melambangkan tiga konsep utama dalam tatanan kehidupan dan alam semesta menurut kepercayaan mereka yaitu Tri Tangtu atau Tri Tunggal.
1. Melambangkan Tiga Wilayah Baduy (Tangtu Tilu)
Jumlah tiga anak tangga ini merepresentasikan tiga desa inti yang dianggap suci dan merupakan pusat adat Suku Baduy Dalam, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik.
Tiga desa ini adalah wilayah Baduy Dalam, tempat di mana aturan adat diterapkan secara paling ketat, dan menjadi Pusat Alam bagi masyarakat.
2. Melambangkan Tiga Tahapan Hidup Manusia
Angka tiga juga dihubungkan dengan siklus dan perjalanan spiritual manusia yang terbagi menjadi tiga tahapan fundamental, yaitu lahir (awal kehidupan), hidup (perjalanan di dunia), dan mati (kembali ke alam).
| Sri Sultan HB X Hadiri Simposium, Tegaskan Pembangunan Yogyakarta Tak Boleh Lepas dari Budaya |
|
|---|
| Mulai 14 Maret, Bus Dilarang Masuk TKP Senopati, Bisa ke Ngabean atau Eks Menara Kopi |
|
|---|
| Larangan Parkir Bus di Kawasan Sumbu Filosofi Jogja Bakal Diujicobakan Saat Libur Lebaran |
|
|---|
| Penataan Sumbu Filosofi Yogyakarta, Bus Pariwisata Bakal Dilarang Melintasi Titik Nol dan Tugu |
|
|---|
| Pemkot Yogyakarta Perketat Akses Bus Pariwisata di Kawasan Sumbu Filosofi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Rumah-Adat-Baduy.jpg)