Rumah Betang: Keharmonisan Komunal dan Kekuatan Budaya Dayak

Rumah Betang dikenal dengan ciri khasnya sebagai rumah panjang (long house), di mana satu bangunan dapat dihuni oleh banyak kepala keluarga sekaligus.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
Instagram@roy_heliopolis
Betang Rumah Adat Khas Dayak 

Memiliki ruang keluarga untuk sebagai hunian pribadi, jadi setiap keluarga menempati satu bilik atau kamar tersendiri yang memiliki pintu masuk dari teras panjang.

Terakhir terdapat koridor panjang yang merupakan area publik sekaligus penghubung yang membentang di sepanjang rumah.

Koridor ini menjadi pusat aktivitas komunal, mulai dari upacara adat, musyawarah, hingga tempat menjemur hasil panen.

3.      Material Alami dan Ketahanan

Sebagian besar material yang digunakan untuk membangun Rumah Betang berasal dari alam sekitar, menunjukkan kearifan lokal Dayak terhadap hutan.

Menggunakan bahan kayu ulin atau disebut juga kayu besi merupakan material utama karena kekuatannya dan ketahanannya terhadap air dan rayap, menjadikan rumah ini mampu bertahan hingga ratusan tahun.

Dahulu,bagian atapnya terbuat dari sirap atau daun rumbia yang dianyam.

Makna Sosial dan Budaya

Rumah Betang adalah pusat peradaban Dayak. 

Keberadaannya mengandung makna sosial dan budaya yang mendalam.

Tinggal dalam satu atap yang sama menumbuhkan rasa persatuan, saling berbagi, dan tanggung jawab kolektif. 

Setiap masalah yang dihadapi satu keluarga adalah masalah bersama.

Adapun pusat adat dan ritual yang dilakukan, seperti ritual panen (Gawai), perkawinan, atau upacara kematian, dilaksanakan di koridor panjang Rumah Betang. 

Hal ini memperkuat peran rumah sebagai penopang tradisi.

Selain itu, di Betang diterapkan sistem hukum adat yang ketat. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved