Kisah di Balik Naniura Makanan Khas Batak yang Penuh Makna

Namanya Naniura, sebuah sajian ikan mentah yang sering dijuluki sebagai “sashimi-nya Batak.”

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Instagram@piltikcoffee
Naniura Makanan Khas Batak 

1.      Pemilihan ikan harus dalam kondisi sangat segar. 

Ikan yang telah dibersihkan kemudian difilet, dipisahkan dari tulang dan kulitnya.

2.      Potongan ikan mentah kemudian direndam dalam perasan air jeruk nipis atau jeruk jungga (sejenis jeruk purut khas Batak).

Asam dari jeruk inilah yang akan mengubah tekstur dan warna ikan, membuatnya seolah-olah matang. 

Proses ini disebut pematangan dengan asam, mirip dengan teknik ceviche di Amerika Latin.

3.      Ini adalah inti dari Naniura, semua bumbu dihaluskan.

Bumbu halus terdiri dari rempah-rempah yang kompleks, seperti kunyit, jahe, andaliman (bumbu khas Batak yang memberikan sensasi pedas dan kebas), kemiri, dan bawang Batak (semacam lokio). 

4.      Ikan yang telah matang oleh asam kemudian dicampur dengan bumbu halus. 

Perpaduan rasa asam segar dari jeruk, pedas kebas dari andaliman, gurih dari kemiri, dan hangat dari jahe menciptakan harmoni rasa yang unik dan sulit dilupakan.

Naniura sering disajikan sebagai hidangan pembuka yang menyegarkan atau sebagai lauk utama yang disantap bersama nasi putih hangat. 

Sensasi keasaman, pedas, dan gurihnya menyatu sempurna di lidah, meninggalkan jejak rasa yang tak terlupakan.

Makna Budaya yang Terus Lestari

Saat ini, naniura tidak lagi hanya menjadi hidangan untuk para raja. 

Makanan ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari jamuan adat, acara keluarga, hingga restoran-restoran Batak

Keberadaannya terus melestarikan kearifan lokal dan menjadi jembatan bagi generasi muda untuk mengenal kekayaan kuliner leluhur mereka.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved