Kisah di Balik Naniura Makanan Khas Batak yang Penuh Makna
Namanya Naniura, sebuah sajian ikan mentah yang sering dijuluki sebagai “sashimi-nya Batak.”
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNJOGJA.COM – Di antara kekayaan kuliner Nusantara, terselip sebuah hidangan istimewa dari Tanah Batak yang tak hanya memajakan lidah, tetapi juga menyimpan sejarah dan filosofi yang mendalam.
Namanya Naniura, sebuah sajian ikan mentah yang sering dijuluki sebagai “sashimi-nya Batak.”
Namun, Naniura bukanlah sekadar hidangan biasa, melainkan wujud nyata dari kearifan kuliner leluhur yang dahulu hanya dipersembahkan bagi para raja.
Sejarah dan Filosofi yang Mengikat
Nama Naniura berasal dari bahasa Batak, “na niura” yang berarti “yang tidak dimasak.”
Ini merujuk pada cara pengolahannya yang unik, di mana ikan tidak dimasak di atas api, melainkan “dimatangkan” secara kimiawi oleh perasan air jeruk.
Dahulu, hidangan ini hanya disajikan untuk para raja, ketua adat, atau saat upacara sakral.
Hal ini melambangkan penghormatan tertinggi kepada tamu atau momen penting, sebab pengolahannya membutuhkan kesabaran, keahlian, dan bahan-bahan pilihan.
Filosofi di balik Naniura adalah tentang kemurnian.
Ikan yang diolah dalam kondisi mentah melambangkan kesucian bahan baku, sementara bumbu-bumbu yang kaya rempah menjadi simbol kekayaan alam Tanah Batak yang melimpah.
Proses “pematangan” dengan jeruk juga mengajarkan tentang proses alamiah dan kesabaran.
Naniura bukan sekadar makanan, melainkan sebuah ritual yang merepresentasikan keagungan budaya Batak.
Proses pembuatan Naniura
Bahan utama naniura adalah ikan air tawar dan yang paling otentik yaitu ikan Batak atau ikan jurung yang populasinya kini kian langka.
Namun, kini banyak yang menggunakan ikan mas atau ikan nila sebagai alternatif.
Proses pembuatannya sangat detail dan membutuhkan ketelitian.
Berikut adalah langkah-langkah sederhana dari proses pembuatannya:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Naniura.jpg)