Dosen Stikes Panti Rapih Beri Pendampingan KWT, Olah Lele Berbasis Zero Food Waste

Beberapa dosen dan mahasiswa Prodi Gizi, Stikes Panti Rapih Yogyakarta memberi pelatihan diversifikasi olahan lele berbasis konsep zero food waste

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Joko Widiyarso
DOKUMENTASI untuk TRIBUNJOGJA.COM
PELATIHAN MENGOLAH LELE - Para anggota KWT Mugi Lancar mendapat kesempatan pelatihan mengolah lele berbasis Zero Food Waste. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Beberapa dosen dan mahasiswa Prodi Gizi, Stikes Panti Rapih Yogyakarta memberi pelatihan berupa diversifikasi olahan lele berbasis konsep zero food waste atau meminimalkan limbah, di kelompok wanita tani (KWT) Mugi Lancar Padukuhan Soromintan, Kelurahan Sendangarum, Sleman.

Pengabdian masyarakat yang didukung Kemendiktisaintek Tahun 2025 ini dilaksanakan oleh tiga dosen yakni Veronica Ima Pujiastuti, sebagai Ketua Pelaksana, Hiasinta Anatasia Purnawijayanti dan Fransisca Anjar Rina Setyani, selaku anggota. 

Kegiatan ini jug melibatkan tiga mahasiswa dari Prodi Sarjana Gizi yakni Fransisca Octa, Clara Tyas, dan Maria Dita. 

"Pengabdian ini berjudul pemberdayaan masyarakat KWT “Mugi Lancar” Padukuhan Soromintan Kelurahan Sendangarum, Melalui Diversifikasi Olahan Lele Berbasis Konsep Zero Food Waste," kata Veronica Ima, Minggu (21/9/2025).

Dia menuturkan latar belakang kegiatan ini didasari Padukuhan Soromintan sebagai lokasi kegiatan memiliki hasil perikanan air tawar yaitu ikan lele yang melimpah. 

Hasil tangkap ikan sebesar 30 persen tidak lolos sortir dan umumnya tidak diminati untuk dikonsumsi. 

"Peluang ini ditangkap oleh KWT Mugi Lancar untuk mengelola lele yang tidak lolos sortir untuk diolah menjadi abon lele," jelasnya.

Dia menyampaikan, permasalahan terjadi dalam aspek produksi dimana hasil rendemen abon sangat sedikit dan tidak optimal karena banyak bahan baku terbuang. 

Di sisi lain pengelolaan manajemen pemasaran sederhana, mengandalkan relasi dari tetangga, dan belum memiliki media digital sebagai sarana promosi. 

"Kegiatan pengabdian ini memfasilitasi masyarakat untuk dapat memanfaatkan seluruh bagian lele secara maksimal atau dengan pendekatan “The Zero Food Waste Concept," imbuh dosen yang akrab disapa Ima.

Ima menambahkan fokus utama program ini adalah mengoptimalkan seluruh komponen bahan baku utama sehingga meminimalisir jumlah sampah dari proses produksi yang akan menumpuk di tempat pembuangan akhir. 

"Seluruh bagian ikan lele masuk kategori probably avoidable waste yaitu makanan yang jarang dikonsumsi atau cenderung dibuang tetapi sebenarnya layak konsumsi apabila dikelola atau diproses lebih lanjut," imbuhnya.

Pengabdian dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2024 yang berlokasi di Balai Padukuhan Soromintan, Sendangarum, Minggir Kabupaten Sleman melalui serangkaian kegiatan yaitu sosialisasi program, pengenalan konsep pengolahan pangan berbasis konsep zero food waste, pelatihan pengolahan lele menjadi frozen food dan pengeringan tulang lele yang aman dan higienis.

"Kami juga melakukan pelatihan pelabelan kemasan, serta digital marketing, Mitra juga dibekali dengan perhitungan harga pokok penjualan serta pendampingan untuk mendapatkan Sertifikat Pemenuhan Komitmen Produksi Pangan Olahan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT)," ujarnya.

Adapun jumlah peserta pelatihan sebanyak 17 orang dari anggota KWT Mugi Lancar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved