Hari Kesetaraan Perempuan 26 Agustus, Ternyata Ini Muasalnya

Indonesia punya R.A. Kartini, Amerika punya Elizabeth Cady Stanton. Setiap 26 Agustus, AS memperingati Hari Kesetaraan Perempuan.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
freepik.com
Foto beberapa wanita sedang berpose didepan kameran menggunakan kacamata (Freepik.com) 

Hari Kesetaraan Perempuan resmi ditetapkan pada tahun 1971 melalui usulan Bella Abzug, seorang anggota kongres perempuan dari New York.

Dua tahun kemudian, Kongres AS mengesahkan resolusi yang menjadikan 26 Agustus sebagai peringatan tahunan.

Sejak masa pemerintagan Richard Nixon, setiap presiden AS rutin mengeluarkan proklamasi untuk memperingatinya.

Women's Equality Day bukan hanya mengenang pengesahan Amandemen ke-19, tetapi juga menjadi simbol perjuangan berkelanjutan untuk melawan diskriminasi dan memperkuat peran perempuan di berbagai bidang.

Tantangan dan Perjuangan Kesetaraan Gender yang Masih Berlanjut

Peringatan Hari Kesetaraan Perempuan mengingatkan kita bahwa perjuangan belum selesai.

Hingga kini, masih ada banyak tantangan besar yang harus dihadapi para perempuan, antara lain:

  • Kesenjangan Upah. Di banyak negara, perempuan masih menerima bayaran lebih rendah untuk pekerjaan yang setara.
  • Minimnya Representasi Politik. Jumlah perempuan dalam posisi kepemimpinan masih jauh lebih sedikit dibanding laki-laki.
  • Diskriminasi di Tempat Kerja. Pelecehan, hambatan karier, dan stereotip gender masih membatasi ruang gerak perempuan.
  • Beban Ganda. Perempuan masih banyak mengemban tanggung jawab rumah tangga sekaligus bekerja di sektor publik.

Dengan demikian, Hari Kesetaraan Perempuan bukan hanya soal sejarah, melainkan juga gerakan berkelanjutan untuk mewujudkan kesetaraan gender yang nyata di berbagai aspek kehidupan.

Cara Merayakan Hari Kesetaraan Perempuan

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk ikut merayakan dan memaknai 26 Agustus, di antaranya dengan menyuarakan dukungan di media sosial menggunakan tagar #WomensEqualityDay.

Anda juga dapat mengikuti seminar atau diskusi publik tentang kesetaraan gender, mengikuti atau mendukung organisasi perempuan, juga meningkatkan kesadaran di tempat kerja dengan memberikan pelatihan tentang kesetaraan gender.

Atau dengan cara sesederhana menghargai kontribusi perempuan di sekitar kita dengan memberikan dukungan nyata.

Baca juga: Cerita Perempuan di Nganjuk Didatangi Debt Collector Saat Bawa Mobil Rental

Lebih dari satu abad setelah Amandemen ke-19 disahkan, perempuan di seluruh dunia masih berjuang menghadapi diskriminasi dan sering kali belum menikmati hak yang sama.

Tokoh-tokoh besar seperti Susan B. Anthony, Elizabeth Cady Stanton, hingga Ida B. Wells-Barnett telah membuka jalan panjang bagi perempuan modern.

Namun, pekerjaan besar tetap menanti generasi berikutnya untuk memastikan kesetaraan benar-benar dirasakan semua kalangan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved