Horizzon

Selamatkan Pancasila !

NEGARA pernah menggunakan doktrin ala militer untuk memastikan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila menjadi satu pemahaman yang sama

Tayang:
Penulis: ufi | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja
Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Jogja 

PANCASILA adalah doktrin yang dipaksakan negara untuk seluruh warga negara. Untuk itu, agar Pancasila ini dihayati dan diamalkan oleh seluruh warga negara, maka negara pernah menggunakan disiplin ala militer untuk memastikannya. 

Bagi mereka yang masa remajanya melewati fase 1997-1998 atau sebelumnya, tentu paham dengan apa yang saya maksud. Mereka yang seusia dengan saya, pasti ingat betul bagaimana sikap disiplin ala militer begitu kental setiap mengikuti apa yang dulu disebut sebagai penataran P4 (pedoman, penghayatan dan pengamalan Pancasila). 

Sepanjang hidup, setidaknya saya tiga kali mengalami apa yang namanya penataran P4. Pertama ketika masuk ke Sekolah Menengah Pertama, hal serupa juga harus saya lalui ketika hari-hari pertama menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas.

Terakhir, pengalaman mengikuti penataran P4 adalah ketika sepekan pertama masuk di bangku kuliah, tepatnya sebelum mengikuti program Ospek. 

Baju putih, celana putih dengan perlengkapan komplit berupa topi, dasi dan standart kerapian maksimal adalah nuansa yang kental ketika menjalani penataran P4. Nuansa disiplin melalui pendidikan baris berbaris yang penuh dengan tekanan lantaran biasanya langsung dipimpin oleh anggota TNI atau Polisi melengkapi ‘teror’ pada setiap siswa baru di hari-hari pertama sekolah kala itu. 

Pola penyampaian ala militer inilah yang barangkali membuat kesan bahwa pemahaman tentang Pancasila ini lebih mendekati ke arah doktrin dibanding memberikan fondasi pemahaman akan keberagaman dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara. 

Lantaran benar-benar mengalami situasi tersebut, rasanya sekarang saya bisa memastikan bahwa Pancasila memang dibutuhkan oleh bangsa ini. Saya berpikir, barangkali tidak berlebihan jika di masa itu, Soeharto dengan kekuasaannya melihat penataran P4 berikut pelaksanannya di lapangan memang dibutuhkan.  

Meski awalnya menolak dan menuding bahwa penataran P4 adalah doktrin negara, namun sekarang saya paham betul bahwa Pancasila adalah nilai-nilai dasar atau nyawa dari bangsa yang dibangun dari keberagaman ini. 

Saya juga sepakat dengan Rocky Gerung yang menyebut bahwa Pancasila adalah saripati dari idiologi dan pemikiran hebat dunia yang berhasil dirangkum oleh founding father bangsa ini.

Dalam satu fase, saya juga merasakan bahwa perbedaan dan keberagaman yang ada bukanlah untuk diseragamkan, melainkan menjadi landasan dialektika untuk membangun peradaban berbangsa dan bernegara. 

Sampai di sini saya juga masih ingat betul bagaimana detail dari pelaksanaan penataran P4 kala itu. Perlu dicatat! Konsep pembelajaran dengan menggunakan simulasi permainan pertama kali saya temukan saat penataran P4. 

Saya masih ingat, ada permainan ular tangga dan role game lainnya untuk menancapkan dan membumikan butir-butir P4 yang berjumlah 36 kemudian berkembang menjadi 45 di benak peserta penataran. 

Semua peserta ditargetkan hafal 45, utamanya 36 butir-butir Pancasila yang konon disebut sebagai Eka Prasetya Panca Karsa. Penataran P4 bertujuan untuk melahirkan manusia-manusia Pancasila yang dulu digembleng dengan serius oleh bangsa ini sehingga lahirlah manusia-manusia berjiwa Pancasila.   

Sampai saat ini saya meyakini, 36 butir-butir Pancasila yang kemudian dikembangkan menjadi 45 yang lahir dari lima sila Pancasila yang merupakan pemikiran luhur para pendiri bangsa ini adalah kebaikan yang masih related dengan tantangan peradaban kekinian. 

Saya berpikir, meski dengan metode berbeda, rasanya generasi penerus bangsa ini juga perlu untuk ‘didoktrin’ tentang Pancasila agar nilai-nilai luhur bangsa terpelihara. Bangsa ini harus konsisten bahwa kita sepakat untuk mendasarkan kepercayaan pada Tuhan dalam membangun peradaban atas keberagaman untuk terwujudnya keadilan sosial dengan jalan panjang demokrasi. 

Saya meyakini, keberagaman yang menjadi pondasi dari bangsa ini masih terpelihara sampai saat ini tak lain dan tak bukan adalah karena Pancasila. Yang justru saya khawatirkan sekarang adalah, rasanya kekuatan lain yang mengingkari Pancasila, yaitu kekuasaan, pelan namun pasti justru mengoyak ‘mantra’ sakti bernama Pancasila yang selama ini telah menjadi nyawa dari kehidupan kita berbangsa dan bernegara. 

Selamat Hari Lahir Pancasila! Selamatkan Pancasila untuk masa depan Bangsa Indonesia! (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved