Ekologi Jawa dalam Kelestarian Alam di Indonesia

hubungan timbal balik antara manusia, alam, dan nilai budaya sebagai satu kesatuan sistem yang saling memengaruhi.

Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Ilustrasi wayang 

Oleh
Aldi Rizq’ Abdiel Muhammad S.Pd, M.Pd.

KONDISI alam Indonesia secara umum dipengaruhi oleh dinamika musim hujan yang sedang berlangsung, ditandai dengan curah hujan menengah hingga tinggi di sebagian besar wilayah, khususnya di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Aktivitas atmosfer seperti angin monsun Asia dan peningkatan kelembapan udara berkontribusi terhadap terbentuknya awan hujan yang berpotensi memicu banjir, tanah longsor, serta peningkatan debit sungai di daerah rawan.

Sementara itu, suhu udara relatif stabil pada kisaran tropis, dengan variasi lokal dipengaruhi oleh topografi dan tutupan lahan.

Secara ekologis, kondisi ini mendukung ketersediaan air bagi ekosistem dan pertanian, namun juga menuntut kewaspadaan terhadap dampak hidrometeorologis yang dapat mengganggu keseimbangan lingkungan dan aktivitas manusia.

Hal tersebut sudah dapat dipelajari sejak kuno dalam karya ilmiah Jawa yang menempatkan hubungan timbal balik antara manusia, alam, dan nilai budaya sebagai satu kesatuan sistem yang saling memengaruhi.

Lingkungan dipahami tidak hanya sebagai ruang fisik, tetapi juga sebagai ruang sosial dan spiritual yang diatur oleh prinsip keseimbangan, harmoni, dan kelestarian, sebagaimana tercermin dalam konsep memayu hayuning bawana.

Dalam perspektif ini, aktivitas manusia seperti pertanian, pengelolaan air, dan pemanfaatan sumber daya alam dikaji secara rasional dengan mempertimbangkan dampak ekologis jangka panjang serta etika lokal.

Pendekatan tersebut memberikan kerangka ilmiah yang kontekstual untuk menganalisis keberlanjutan lingkungan berbasis kearifan lokal Jawa.

Kearifan Jawa yang memuat karya ilmiah yang merujuk pada ekologi adalah lakon pewayangan Makukuhan merepresentasikan hubungan timbal balik manusia dan alam dalam pandangan Jawa secara simbolik namun sistematis.

Dalam lakon tersebut, tindakan tokoh Jaka Amikukuh yang melakukan makukuhan (penggalian dan pengolahan tanah) hingga memunculkan sumber air dimaknai sebagai interaksi aktif manusia dengan alam yang harus dilandasi ketekunan, tanggung jawab, dan kesadaran kosmis.

Alam tidak diposisikan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai entitas yang merespons perilaku manusia sesuai hukum keseimbangan.

Secara ilmiah, narasi ini dapat dibaca sebagai refleksi kearifan ekologis Jawa yang menekankan prinsip kausalitas, keberlanjutan sumber daya, dan etika lingkungan dalam pengelolaan alam demi keberlangsungan kehidupan bersama.

Maka dengan demikian Kondisi alam Indonesia saat ini yang ditandai oleh tekanan ekologis seperti degradasi lingkungan, perubahan iklim, dan meningkatnya bencana hidrometeorologis dapat dianalisis melalui perspektif ekologi budaya yang selaras dengan lakon pewayangan Makukuhan.

Dalam lakon tersebut, proses makukuhan yang dijalani tokoh Jaka Amikukuh melambangkan hubungan timbal balik antara manusia dan alam, di mana alam memberikan sumber kehidupan seperti air dan kesuburan tanah sejauh manusia berperilaku tekun, bertanggung jawab, dan tidak melampaui batas keseimbangan.

Secara ilmiah, narasi ini relevan untuk membaca realitas Indonesia kontemporer, bahwa keberlanjutan ekosistem sangat dipengaruhi oleh etika pengelolaan lingkungan oleh manusia.

Dengan demikian, Makukuhan dapat dijadikan kerangka konseptual ekologis yang menegaskan prinsip kausalitas dan keberlanjutan dalam relasi manusia dan alam di Indonesia saat ini. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved