Iran Klaim Menang Perang, Mojtaba Khamenei: Kami Tidak Cari Perang, Tapi Siap Sampai Mati

Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei menyatakan Iran sebagai pemenang dalam perang melawan Amerika Serikat da Israel

Tayang:
Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
Tangkapan Layar
PEMIMPIN IRAN - Potret Mojtaba Khamenei, pemimpin baru Iran Pengganti Ali Khamenei 

 “Rakyat Iran, meskipun berduka, mengubah kesedihan mereka menjadi perlawanan dan tekad, mengejutkan musuh mereka dan menginspirasi para pengamat di seluruh dunia,” katanya.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut keputusan menerima gencatan senjata telah disetujui oleh pemimpin tertinggi dan seluruh jajaran kepemimpinan.

 “Gencatan senjata bukan tanda kelemahan Iran, tetapi pilihan untuk mengonsolidasikan kemenangan,” ujarnya.

Baca juga: Alasan Iran Kembali Tutup Selat Hormuz Setelah Dibuka Beberapa Jam

Siapa Mojtaba Khamenei?

Mojtaba Khamenei (lahir 1969) adalah putra kedua dari mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Selama bertahun-tahun, ia dikenal sebagai sosok "orang kuat" di balik layar yang memiliki pengaruh besar dalam struktur kekuasaan Iran, terutama di lingkungan kantor ayahnya (Beit-e Rahbari) dan korps keamanan.

Motjaba kenyang akan pengalaman di dunia perang.

 Mojtaba ikut serta dalam Perang Iran-Irak (1980–1988). Pengalaman ini membantunya menjalin hubungan erat dengan tokoh-tokoh militer senior, khususnya di korps IRGC (Garda Revolusi Islam) dan milisi Basij.

Koneksi militer ini menjadi fondasi kekuatan politiknya di kemudian hari.

Sejak akhir 1990-an, Mojtaba mulai memegang peran strategis dalam mengelola urusan negara.

 Ia dianggap sebagai salah satu arsitek utama dalam kemenangan Mahmoud Ahmadinejad pada Pemilu Presiden 2005.

Namanya semakin mencuat saat dituding berperan penting dalam menindak aksi protes besar-besaran "Gerakan Hijau" pada tahun 2009.

Untuk menjadi Pemimpin Tertinggi, seseorang harus memiliki kualifikasi keagamaan yang tinggi.

Mojtaba menempuh pendidikan seminari di Qom dan mulai memberikan kuliah hukum Islam tingkat tinggi (Dars-e Kharij).

Pada tahun 2022, ia secara resmi dianugerahi gelar Ayatollah, sebuah langkah krusial untuk memenuhi syarat konstitusional sebagai calon pemimpin.

Penunjukan sebagai Pemimpin Tertinggi

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved