Berita Klaten
Nasi Sayur Sup MBG Klaten Terkontaminasi Bakteri Bacillus Cereus dan E Coli
hasil laboratorium sampel makanan yang diduga menyebabkan puluhan siswa di Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, mengalami keracunan MBG
Penulis: Dewi Rukmini | Editor: Iwan Al Khasni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Dewi Rukmini
TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Klaten telah menerima hasil laboratorium sampel makanan yang diduga menyebabkan puluhan siswa di Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, mengalami keracunan menu bergizi gratis (MBG).
Dari hasil pemeriksaan, ditemukan sejumlah sampel makanan yang mengandung bakteri berbahaya.
Kepala Dinkes Kabupaten Klaten, Anggit Budiarto, mengatakan dari seluruh sampel makanan yang dikirim ke Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Yogyakarta, yakni nasi, ayam, sayur sop, susu, dan buah.
Berdasarkan hasil laboratorium ditemukan hasil positif terkontaminasi bakteri untuk sampel nasi dan sayur sup.
"Jadi untuk nasi positif ditemukan bakteri Bacillus Cereus dan sayur sop terkontaminasi bakteri Escherichia Coli (E. Coli). Dari pemeriksaan laboratorium, untuk air di sana (SPPG Sembung) kandungan E. Coli-nya juga tinggi," ungkap dia kepada Tribun Jogja, Rabu (15/10/2025).
Anggit menuturkan, kontaminasi dua bakteri itu yang menyebabkan puluhan siswa di Kecamatan Wedi mengalami reaksi mual dan muntah usai menyantap menu MBG, beberapa waktu lalu.
Awalnya kecurigaan kasus itu diduga terjadi karena ayam tepung krispi dalam menu tersebut.
Lantaran sejumlah ayam mengeluarkan bau cukup menyengat yang disinyalir bisa menimbulkan reaksi terjadi gangguan oleh penerima manfaat.
"Namun, berdasarkan hasil uji laboratorium justru ayamnya aman dan tidak ada temuan bakteri berlebihan," ujarnya.
Menurutnya, temuan bakteri itu menunjukkan bahwa ada situasi yang menyebabkan bakteri tumbuh dan berkembang biak dengan nyaman.
Baca juga: Kondisi Terbaru Siswa Keracunan Menu MBG di Wedi Klaten
"Kalau bakteri E. Coli akan mati dengan pemanasan. Otomatis dengan pemanasan yang benar, bakteri itu bisa mati. (Tapi kalau ditemukan), berarti dalam proses penyimpanan atau mungkin saat pengantaran. Mungkin waktu selesai masak sampai dikonsumsi itu yang kelamaan," tuturnya.
Oleh karena itu, secara keseluruhan mulai dari kebersihan, penyimpanan, pengolahan bahan pangan, dan kualitas keamanan pangan harus dikoreksi serta ditingkatkan.
SPPG atau dapur MBG pun diwajibkan memiliki sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS).
Salah satu syarat untuk mendapatkan sertifikat tersebut relawan SPPG harus mengikuti kursus keamanan pangan dan pelatihan di Balai Latihan Kesehatan (Balapkes) di Semarang.
"Semua SPPG sudah kami daftarkan ke Balapkes Semarang," pungkasnya. (drm)
Baca dan Ikuti Berita Tribunjogja.com.com di GOOGLE NEWS
| Kabar Duka: Wabup Klaten Benny Ardhianto Tutup Usia di Umur 33 Tahun, Lulusan UGM |
|
|---|
| Operasi Pekat 2025 di Klaten, Kasus Tipiring Miras Naik Jadi 220 Perkara |
|
|---|
| Jabatan Irban di Klaten Resmi Berganti Nama, Fokus Bidang Lebih Spesifik |
|
|---|
| Kasus DBD di Klaten Turun Drastis, Leptospirosis Jadi PR Baru |
|
|---|
| PKK dan DWP Klaten Galang Donasi Rp139 Juta untuk Korban Bencana Sumatera |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/siswa-SMPN-1-Wedi-dirujuk-ke-RSUD-Bagas-Waras.jpg)