Lawson Indonesia Bersamai Wahyu Difabel Asal Jogja

Di balik pelayanan ramah yang diberikan Lawson Indonesia, tersimpan banyak kisah manusiawi yang menginspirasi.

Tayang:
Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Pimpinan Manajemen Lawson berfoto bersama dengan Wahyu Herdiannto, karyawan penyandang disabilitas (Lawsonbility), tuna rungu dan wicara yang tak hanya bekerja dengan sepenuh hati, tetapi juga berhasil mengharumkan nama Indonesia sebagai atlet futsal di ajang SEA Deaf Games 2025. 

TRIBUNJOGJA.COM, TANGERANG – Di balik pelayanan ramah yang diberikan Lawson Indonesia, tersimpan banyak kisah manusiawi yang menginspirasi.

Salah satunya datang dari Wahyu Herdiannto, karyawan penyandang disabilitas (Lawsonbility), tuna rungu dan wicara yang tak hanya bekerja dengan sepenuh hati, tetapi juga berhasil mengharumkan nama Indonesia sebagai atlet futsal di ajang SEA Deaf Games 2025.

Lahir pada 27 tahun silam sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, Wahyu tumbuh dalam keluarga yang penuh cinta dan dukungan. 

Bagi Wahyu, keluarga adalah sumber energi terbesar. Selain ayah yang memberi semangat semasa hidupnya, sang ibu kini menjadi pendorong utama.

Sang ibu, seorang pendidik pada Sekolah Luar Biasa (SLB), menjadi sosok paling berpengaruh dalam hidupnya.

“Ibu selalu pesan supaya saya semangat, berdoa, berani, dan jangan pernah takut. Ibu selalu dukung, saya bersyukur ada ibu, ada doanya setiap hari,” ungkap Wahyu dengan bahasa isyaratnya penuh rasa haru.

Peran keluarga bukan hanya penguat mental, tetapi juga pendorong Wahyu untuk terus berkembang, baik dalam karier maupun olahraga.

Cinta Sepak Bola yang Tumbuh Sejak Usia 7 Tahun

Sejak usia 7 tahun, Wahyu sudah jatuh cinta pada sepak bola.

Meski tidak dapat mendengar sorakan penonton atau instruksi pelatih, kecintaannya pada olahraga ini tidak pernah surut.

Ia kerap berdiri di pinggir lapangan kampung hanya untuk melihat teman-temannya bermain, atau mengamati pertandingan melalui layar televisi sambil mencoba memahami permainan dari gerakan para pemain.

Keterbatasannya tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti bermimpi.

Dukungan ayahnya, yang juga pecinta sepak bola, menjadi sumber kekuatan terbesar.

 “Ayah selalu dukung. Itu jadi semangat saya sampai sekarang,” kenangnya.

Saat berusia 13 tahun,  menjadi titik awal perjalanan serius Wahyu di dunia olahraga, bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) dengan mimpi besar, berkeinginan tampil di berbagai kompetisi, diliput televisi, bahkan suatu hari mengenakan seragam tim nasional.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved