Pedagang Kopi

Fenomena Kopi Keliling: Dari Gaya Hidup hingga Persaingan Dagang

Di balik hiruk-pikuk persaingan dan pahit-manisnya bertahan di jalanan, kopi keliling telah menemukan tempatnya di hati anak muda Jogja.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
(MG | Axel Sabina Rachel Rambing)
Pedagang Kopi Keliling di Sepanjang Jalan Babarsari, Sleman, DIY 

Hingga kini pria lajang tersebut memilih berjualan di halaman ruko, tentu atas izin pemilik ruko tersebut. 

Strategi Berjualan

Para pedagang kopi keliling memanfaatkan keleluasaan armada mereka untuk berpindah-pindah, tidak hanya di satu titik.

Han (44) mengakui lokasi berjualannya akan berbeda tergantung hari. Weekday, Ia akan berjualan di area perkantoran. Sementara Weekend, Ia akan berpindah mencari titik ramai masyarakat. 

Untuk pemilihan lokasi jualan, Han (44) mengakui hanya berdasarkan observasi pribadinya. “Jualannya mau kemana sih ikutin feeling aja, sudah observasi dulu kira-kira dimana yang ramai,’ jelasnya.

Dayat (40) justru memiliki strategi yang berbeda, Ia memilih berjualan di pinggir jalan besar yang memungkinkan pengendara langsung melipir untuk membeli.

Sekalipun lokasi tersebut berhadapan dengan sengatan matahari, Ia tidak mempermasalahkannya.

“Di pinggir jalan seperti ini, jadi gampang kelihatan,” ucapnya tersebut sembari memberikan pesanan pelanggan.

Di balik hiruk-pikuk persaingan dan pahit-manisnya bertahan di jalanan, kopi keliling telah menemukan tempatnya di hati anak muda DI Yogyakarta.

Murah, cepat, dan akrab dengan ritme keseharian urban, secangkir kopi gelasan seolah menjadi simbol sederhana bahwa gaya hidup modern bisa hadir tanpa kehilangan sisi merakyat. (MG | Axel Sabina Rachel Rambing)

Baca juga: Kopi Keliling Demi Masa, Jurus Pemberdayaan Disabilitas Ala Baznas Kota Yogyakarta

 

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved