Pedagang Kopi

Fenomena Kopi Keliling: Dari Gaya Hidup hingga Persaingan Dagang

Di balik hiruk-pikuk persaingan dan pahit-manisnya bertahan di jalanan, kopi keliling telah menemukan tempatnya di hati anak muda Jogja.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
(MG | Axel Sabina Rachel Rambing)
Pedagang Kopi Keliling di Sepanjang Jalan Babarsari, Sleman, DIY 

TRIBUNJOGJA.COM -- Jika Anda melintas di sepanjang Jalan Babarsari, Depok, Kabupaten Sleman Anda akan menjumpai setidaknya tiga pedagang kopi keliling bersaing di satu wilayah.

Fenomena ini merupakan salah satu gambaran bagaimana kopi keliling mulai menjamur hingga menciptakan persaingan dagang di wilayah DI Yogyakarta.

Murah dan cepat mungkin jadi alasan yang tepat mengapa anak muda maupun pekerja kantoran menyukai gaya baru dalam menikmati kopi ini.

Keterangan dari seorang pembeli yang merupakan mahasiswi di salah satu kampus swasta bahwa kopi keliling sangat praktis sebab tidak memerlukan waktu lama untuk disajikan.

 “Kan kalau di kafe harus masuk dulu, parkir, pesan dan nunggu 10-15 menit, sementara kopi seperti ini sat set bisa langsung jalan” ungkap Rosa (21).

Selain karena penyajian yang tidak memakan waktu lama, Adit (22) mengakui bahwa kopi keliling sangat ramah dikantong. “Karena murah,” ucap pria asal Kalasan, Sleman, DI Yogyakarta  tersebut.

Suka Duka Pedagang Kopi Keliling

Bobby (28) salah satu pedagang kopi keliling menyatakan bahwa dalam sehari berjualan di area kampus bisa menghabiskan sekitar 50 gelas. 

Sama halnya dengan Dayat (40) yang berjualan kopi keliling di wilayah perkantoran dan sekolahan dalam sehari bisa menghabiskan 40 gelas, tergantung adanya kompetitor disekitar atau tidak.

Menjamurnya bisnis kopi keliling membuat persaingan dibidang tersebut semakin ketat.

Ada kegetiran yang dirasakan para pedagang, namun jarang terucap.

Misalnya, Han (44) memilih berjualan di area yang jauh dari kampus maupun sekolah. Ia lebih memilih kenyamanan berjualan tanpa kompetitor. 

“Persaingan juga berdarah-darah. saya cari yang nyaman saja,” terang pria asal Jakarta tersebut seraya menghela nafas namun tetap tersenyum.

Lain halnya dengan Han, Bobby (28) menceritakan pahitnya berdagang tanpa punya lapak sendiri, “Pernah dibubarkan Satpol PP waktu nge-stand di pinggir jalan,” ujarnya.

Pengalaman tersebut lantas tak membuatnya berhenti berjualan. Ia justru memutuskan untuk lebih bijak dalam memilih lokasi stand.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved